Editorial Januari 6, 2019

Bagaimana Digital Marketing Bisa Meroketkan Startup Anda di 2019?

By : Bizinsight

Jika Anda ingin merintis bisnis (startup), hal penting yang perlu dirancang selain produk yang unik adalah bagaimana memilih metode marketing yang akan dilancarkan. Dalam marketing konvensional, kita mengenal media-media iklan seperti surat kabar, TV, radio, dan billboard. Namun, untuk melakukan branding melalui media iklan tersebut nampaknya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Thanks to the internet and social media. Hari ini kita mengenal metode digital marketing yang memudahkan para perintis bisnis dalam memasarkan produknya secara lebih independen, kreatif, dan tentunya relatif lebih efisien dalam pengeluaran budget.

Perkembangan digital marketing di Indonesia sejalan dengan makin meluasnya akses internet. Data dari Group M di tahun lalu menyebut, jumlah pengguna aktif internet saat ini diperkirakan mencapai 50% dari total populasi penduduk Indonesia, atau sekitar 132,7 juta pengguna. Selisih satu persen dengan pengguna aktif media sosial yang memiliki angka 49% atau sekitar 130 juta.

Maka hari ini kita menyaksikan era digital marketing telah menemukan momentumnya. Internet telah menjadi pasar yang sangat potensial untuk dieksplorasi, khususnya bagi startup. Karena semakin banyak orang menggunakan internet untuk kebutuhan sehari-hari, baik itu untuk tujuan hiburan, belanja, belajar, atau membayar tagihan.

Jika diamati, digital marketing kini seakan menjadi norma baru. Baik startup maupun pemain lama mau tidak mau mesti mengikuti tren digitalisasi jika ingin keep up dengan permainan hari ini. Brand-brand mulai aktif membuat konten-konten digital dan menyebarluaskannya melalui multi-platform media sosial, website, Google Ads dan media iklan digital lainnya.

Memasuki awal tahun 2019, nampaknya strategi campaign telah dirancang matang-matang oleh para kompetitor Anda. Pastinya Anda tidak ingin menjadi pelari terakhir di antara kompetitor startup lainnya bukan?  Artinya, berbagai success story dalam menggarap kampanye pemasaran pada tahun lalu belum tentu sama suksesnya jika digunakan di tahun ini.

Pada artikel ini, Bizinsight akan merangkum beberapa tren yang perlu diketahui untuk merancang strategi digital marketing di tahun ini.

1. Segmentasi Pengguna

Kita mengetahui bahwa separuh penduduk Indonesia kini mengakses internet. Namun, apakah 132,7 juta pengguna itu semuanya merupakan leads yang potensial untuk menjadi pelanggan kita?

Seseorang pakar mengatakan, marketing tanpa data ibarat mengemudi dengan mata tertutup.

Kita menginginkan agar marketing campaign yang dilancarkan tepat sasaran ke pelanggan yang memang memiliki minat terhadap produk yang kita pasarkan. Karena itu untuk mengetahuinya dibutuhkan segmentasi pelanggan.

Secara umum, internet menghadirkan perangkat-perangkat yang bisa digunakan untuk menganalisa potensi leads dan mengukur sejauh mana campaign itu menjangkau pelanggan yang tepat. Anda juga pasti menginginkan ROI (return of investment) secara maksimal dari campaign tersebut.

Telkomsel Digital Advertising melalui unit pengolahan datanya, yakni MSight, telah membuat segmentasi yang dikelompokan berdasarkan minat pelanggan.

Jika startup yang Anda rintis bergerak di bidang informasi misalnya, maka yang dibutuhkan dalam strategi marketing Anda adalah pemetaan pelanggan yang memiliki intensitas tinggi dalam mengakses portal berita dan news streaming. Sehingga, iklan Anda pun akan ditampilkan pada sejumlah portal berita ketika pelanggan berselancar menggunakan jaringan Telkomsel.

Contoh segmentasi pelanggan Telkomsel berdasarkan hobi dan aktivitas internet. Source: MSight

2. Maksimalkan Konten Digital

Sebagai pemain baru, Anda butuh mengenalkan identitas brand Anda kepada pelanggan. Cara yang paling definitif di era digital seperti saat ini adalah tidak lain dengan membuat konten digital. Konten itu bisa dtampilkan dalam bentuk video, infografis, Q&A, podcasts, atau tulisan.

Pastikan Anda mengemasnya dengan cara yang kreatif, sehingga menarik mata pengguna internet untuk mengunjungi channel, media sosial, atau blog yang Anda gunakan sebagai saluran promosi.

Jika Anda menyajikan konten dalam bentuk tulisan, buatlah model narasi panjang yang secara detil mendeskripsikan brand atau industri yang Anda geluti. Hasil analisis BuzzSumo menyebut, konten dengan narasi panjang—misalnya berjumlah 2.000 karakter—lebih berpotensi viral ketimbang konten pendek.

Berbeda halnya dengan video yang memang dibuat dengan komposisi yang menggabungkan antara visual, audio, dan teks (pesan) pada saat yang bersamaan. Sehingga tidak perlu membutuhkan durasi yang lama untuk menyajikannya selama dikemas dengan menarik dan kreaitf.

Namun, perlu diingat bahwa konten yang Anda buat juga mesti memenuhi target-target esensial dalam marketing seperti brand awareness, meningkatkan traffic pengunjung, memacu leads, atau menjaring dan mempertahankan pelanggan.

3. Giveaway

Memang, merintis itu membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan ini salah satunya adalah berupa budget untuk promosi. Cara yang terbukti ampuh untuk mendatangkan antusias pelanggan adalah dengan memberikan hadiah atau giveaway. Hadiah adalah stimulus yang bisa meningkatkan pengunjung ke web Anda sekaligus menjadi cara branding yang disenangi pelanggan.

Anda bisa mengadakan kuis berhadiah produk dan pada saat yang sama meminta mereka mengisi formulir yang nantinya akan berguna untuk kebutuhan mailing list. Setelah kuis selesai, Anda telah memiliki daftar alamat email pelanggan yang bisa sewaktu-waktu Anda blast dengan newsletter atau konten terbaru.

4. Demografi Data Pengguna Media Sosial

Bisa dikatakan, media sosial adalah representasi dari era digitalisasi saat ini. Setiap orang memiliki euforianya tersendiri terhadap media sosial. Lembaga pengolahan data Statista memprediksi, pada 2019 jumlah pengguna media sosial secara keseluruhan akan mencapai 2,77 miliar. Tidak diragukan lagi media sosial merupakan tempat yang tepat untuk mempromosikan brand Anda.

Jangan ragu untuk mengeluarkan budget promosi di media sosial. Namun, Anda mesti merancang terlebih dahulu setiap konten yang ingin di-publish pada masing-masing platform. Pemetaan terhadap karakteristik pengguna Instagram, Facebook, Twitter, Snapchat, atau LinkedIn juga mesti Anda pahami terlebih dahulu.

Hampir di setiap platform yang banyak digunakan untuk agenda campaign dan promosi kini sudah memliki fitur analisis yang dapat membantu brand Anda dalam mendapatkan insight atau data traffic secara umum. Snapchat dengan Snaplytics atau Facebook, Twitter, dan LinkedIn yang memiliki fitur analytics mereka sendiri.

Penting untuk dipahami bahwa melakukan pemetaan karakterisitik pengguna dari masing-masing platform akan menentukan bagaimana Anda merancang strategi promosi yang tepat ke depannya. Tujuan dari mapping ini bukan hanya untuk memastikan konten Anda tersampaikan ke pengguna yang tepat dari masing-masing platform, tetapi juga untuk menghasilkan leads sembari membangun loyalitas pelanggan Anda.

Mungkin, di satu platform minim hasil, tetapi pada platform lain justru sangat maksimal mengundang leads. Maka cross check data campaign Anda sebelumnya, mungkin Anda melakukan generalisasi konten pada setiap platform. Agar konten Anda bisa lebih diterima, Anda bisa menggunakan bahasa yang simpel dan singkat pada Twitter dan lebih bermain pada punchline. Namun, pengguna Instagram dan Facebook cenderung lebih menginginkan konten visual ketimbang untaian teks.