Content Marketing untuk Membangun Jembatan Kepercayaan dengan Konsumen/ MorningbirdPhotos - Pixabay
Maret 15, 2018

Menjembatani Kepercayaan Pelanggan dengan Content Marketing

By : Bizinsight

Content marketing (konten pemasaran) memang bukan barang baru di dunia pemasaran. Kehadirannya pun tak hanya sekedar menjadi teknik pemasaran yang dirancang untuk mendorong produk agar diterima pasar. Ia juga dapat menjadi jembatan yang efektif dalam mendapatkan kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Apalagi di era digital ini, ketika tugas membangun kepercayaan pelanggan sama pentingnya dengan misi mengarahkan dan memenangkan lalu lintas organik bagi para pemasar.

Saat ini, pelanggan sudah terlalu sering dipaparkan model pemasaran hard selling. Salah satu dampak yang bisa dilihat adalah meningkatnya jumlah pengguna perangkat lunak pemblokir iklan di seluruh dunia. Pada Agustus 2015 silam, diperkirakan ada 200 juta orang yang memakai perangkat lunak ini dan jumlahnya pun akan terus bertambah.

Ini mungkin kabar baik bagi pelanggan, tetapi menjadi mimpi buruk pemasar yang bergantung pada iklan berbayar untuk menyebarkan pesan merek mereka. Untungnya, masih ada cara untuk melanjutkan usaha pemasaran tanpa diblokir oleh orang yang ingin dijangkau, yaitu melalui konten pemasaran. Lalu lintas yang dihasilkan oleh konten pemasaran pun bisa delapan kali lebih tinggi dibandingkan dengan konten lainnya.

Ok, sebagian dari Anda pasti berpikir, mengapa pelanggan harus mempercayai konten yang dibuat dan dijalankan oleh merek pada sebuah platform seperti blog atau lainnya? Toh, pada akhirnya itu hanya menjadi jalan lain bagi mereka untuk mendorong agendanya ke pelanggan. Well, tidak sepenuhnya benar.

Memang tujuan akhir dari sebuah konten pemasaran adalah untuk membantu mendorong keuntungan perusahaan. Namun, para pemasar juga harus memahami bahwa pada dasarnya konten pemasaran adalah investasi jangka panjang, bukan sprint. Ketika bolanya bergulir, kesempatan untuk meningkatkan lalu lintas organik, rujukan, peringkat situs, dan konversi juga terbuka.

Lebih dari itu, pelanggan juga akan melihat lebih jauh dan tahu ‘wajah’ lain dari perusahaan yang dapat membuat  kepercayaan dan loyalitasnya tumbuh. Ketika hal tersebut sudah terjadi, pemasaran dari mulut-ke-mulut pun akan berjalan dengan sendirinya.

Namun, bagaimana cara melakukan hal itu ketika ada begitu banyak konten lahir di internet yang kini memiliki penduduk lebih dari 4 miliar?

Menembus Kebisingan di Internet

Crowded Content Marketing / Wallula - Pixabay

Crowded Content Marketing / Wallula – Pixabay

Pada dasarnya, konten pemasaran adalah ketika merek menciptakan dan memasarkan konten yang memiliki nilai, relevan, dan konsisten untuk menarik dan mempertahankan target pasar yang sudah jelas. Melalui konten pemasaran, perusahaan juga dapat terhubung dengan pelanggan dan melibatkan mereka dalam topik yang penting.

Namun, internet kini sudah sangat padat dan setiap menitnya ada banyak konten yang lahir. Blog, video, foto, silahkan pilih sendiri. Untuk menembus kebisingan tersebut memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan tak mungkin untuk dilakukan.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mengetahui siapa yang ingin dijangkau. Dari sana, cerita dengan topik yang tak ingin dilewatkan oleh target pasar bisa mulai disusun. Cerita tersebut perlu memiliki nilai lebih karena praktik konten pemasaran yang baik memang fokus pada hal tersebut. Bukan hanya mendorong produk ke tangan pelanggan yang tidak menyukainya.

Nilai seperti apa yang bisa diberikan?

Ide, inspirasi, tips dan trik, dan edukasi. Keempat nilai tersebut lah yang pada umumnya dirasakan oleh pelanggan memiliki manfaat dan berharga untuk dirinya.

Salah satu contohnya, bisa dilihat dari bagaimana Tokopedia menjalankan kampanye pemasaran mereka. Mulai dari menggunakan frasa “Sudah cek Tokopedia, belum?”, “Ciptakan peluangmu”, hingga yang paling baru adalah “Mulai Aja Dulu”, Tokopedia berhasil membangun jembatan kepercayaan berkelanjutan dengan pelanggannya. Imbasnya, Tokopedia menjadi salah satu perusahaan e-commerce paling populer dan terpercaya di Indonesia.

Tentu ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan juga, seperti momen-momen hari raya keagamaan, kemerdekaan, atau mikro momen. Anda juga tidak bisa memukul rata konten yang dibuat untuk setiap orang karena setiap individu atau kelompok akan memiliki seleranya sendiri.

Maka dari itu, riset untuk memilih topik yang sesuai dengan selera pasa perlu dilakuakn sebelum membuat konten pemasaran. Tujuannya, agar konten yang diciptakan dapat memberikan rasa yang berbeda di tengah-tengah bisingnya internet saat ini dan di saat yang bersamaan tidak menjadi bumerang bagi perusahaan.

Tumbuhnya Kepercayaan Pelanggan

Why Content Marketing Can Create Trust / Myriams Fotos - Pixabay

Why Content Marketing Can Create Trust / Myriams Fotos – Pixabay

Pelanggan selalu ingin dapat lebih banyak berinteraksi dengan merek. Oleh karena itu konten pemasaran harus terasa intim, seolah-olah sedang melakukan percakapan dengan teman yang dapat dipercaya.

Selain itu, ketika merek memberikan nilai dan pendidikan pada konten pemasarannya, transparan, dan memberi kesempatan pada pelanggan untuk berpendapat, maka persona postif perusahaan akan menjadi lebih kuat dan hubungan berdasarakan kepercayaan akan terbangun. Ada alasan psikologis untuk hal ini.

Pernahkah Anda mendengar Mere Eksposure Effect, atau yang lebih dikenal dengan prinsip keakraban? Ini adalah fenomena psikologis ketika orang-orang merasakan preferensi tertentu untuk orang atau hal hal lainnya hanya karena mereka merasa familiar. Dan dari sini efek domino untuk membangun kepercayaan bisa terjadi.

Singkatnya kurang lebih seperti ini. Jika pelanggan menemukan konten yang Anda buat itu bermanfaat, baik langsung atau setelahnya, hal itu bisa menciptakan kesan pertama yang positif. Efek ini dapat berlanjut dengan tertariknya tuas psikologis tentang ‘timbal balik’, yaitu perasaan ketika ingin memberikan sesuatu kembali karena pelanggan menemukan konten yang Anda buat bermanfaat dan berharga baginya.

Dari situ bibit kepercayaan akan muncul. Jika Anda mulai tertarik kepada sebuah merek, dan mereka memberikan layanan atau produk yang bagus, ini dapat berujung pada tumbuhnya kepercayaan. Ketika kepercayaan terebut meningkat, maka niat untuk membeli pun ikut naik.

Pada akhirnya, merek yang dapat menciptakan konten pemasaran yang lebih baik dari kompetitor sadar bahwa content marketing adalah tentang membangun kepercayaan pelanggan. Para pemasar pun percaya bahwa konten pemasaran adalah tren paling penting untuk bisnisnya di tahun 2018 ini. Namun, perlu digarisbawahi juga bahwa tidak akan ada gunanya sebaik apapun konten pemasaran Anda jika Anda mencoba memaksa orang untuk membeli sesuatu yang ‘omong kosong’ karena itu tidak akan pernah berhasil.