Februari 27, 2019

Mengenal Berbagai Istilah dalam Industri Video Digital

By : Bizinsight

Video digital telah menjadi industri yang berkembang pesat. Kemajuan industrinya didorong oleh terobosan-terobosan dan inovasi digital yang membuat tren video makin meluas, baik di kalangan masyarakat maupun bisnis. Kini, banyak istilah-istilah dalam dunia video yang bermunculan seperti YouTuber, influencer, view, dan lain sebagainya.

Dalam artikel ini Digiads berupaya merangkum istilah-istilah tersebut yang bersumber dari artikel Digiday berjudul “The Digiday Guide to Video”. Namun, kami akan tetap mempertahankan asal katanya dengan berupaya mengartikulasikan ke dalam makna dan konteks di Indonesia karena istilah-istilah ini masih banyak yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Televisi

TV Linier: Sebutan lain dari program “siaran langsung” atau “live”. Istilah ini mungkin agak asing di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan, jika Anda mengetik “TV Linier” menggunakan mesin pencari Google, sedikit sekali artikel atau jurnal ilmiah yang membahas tema ini. Silahkan Anda ketik “Linear TV”, maka akan begitu banyak muncul artikel dan studi mengenai ini. 

MVPD (Multichannel Video Programming Distributor): Perusahaan yang menjual dan memberikan berbagai layanan saluran TV, baik nasional maupun internasional, kepada pelanggan berbayar. Beberapa contoh layanan MVPD di Indonesia di antaranya adalah IndiHome, Indovision, MNC Play, First Media, Nex Media, dan masih banyak lagi.

Layanan-layanan tersebut biasanya dihadirkan menggunakan sistem digital yang menggunakan kabel atau analog yang memakai media satelit. Namun, seiring dengan reformasi teknologi yang bergerak cepat, banyak perusahaan menawarkan konten digital berbayar yang bisa diakses menggunakan internet melalui gawai ataupun desktop.

Pay-TV: Di Indonesia Pay-TV lebih dikenal dengan istilah “TV kabel” (meski sebagian besar layanan TV menggunakan kabel), “TV berbayar”, atau “TV berlangganan”. Singkatnya, Pay-TV adalah ekosistem layanan TV kabel berlangganan (berbayar). Di saat seorang pelanggan menerima layanan yang ditawarkan MVPD, maka dia telah memasuki ekosistem TV berbayar.

Pemilik saluran TV A memperoleh keuntungan dari dua jalan, yakni melalui iklan dan langganan. Sementara MVPD membayar komisi ke pemilik saluran TV A dari setiap pelanggan yang bersedia berlangganan layanan TV berbayar—tentu dengan paket yang menyediakan saluran TV A.

Video-on-Demand (VOD): Bagi penggila film berseri seperti Games of Throne, The Walking Dead, atau serial terbaru Turki Ertugrul, istilah ini tentu sudah tidak asing lagi. VOD adalah layanan konten film (biasanya berseri) yang disediakan MVPD atau provider setelah film tersebut telah tayang. Jadi, jika pelanggan tidak sempat menyaksikannya pada jam yang ditentukan, film tersebut masih dapat diakses dengan syarat tertentu.

Set-Top-Box: Set-Top-Box atau dekoder hari ini tidak hanya berfungsi merekam program TV yang telah lalu. Alat ini juga dapat mengubah sinyal digital yang diterima satelit, internet, ataupun kabel ke dalam format analog yang dapat ditampilkan ke layar TV analog.

TV Everywhere: Ekosistem berbentuk situs ataupun aplikasi yang membuat pengguna dapat menyaksikan siaran langsung di mana saja dan kapan saja. Beberapa stasiun TV swasta di Indonesia telah mengadopsi konsep ini dengan menghadirkannya dalam bentuk aplikasi MOBILE berbasis Android ataupun iOS.

UpFront: Sebuah event yang diselenggarakan grup atau perusahaan TV dengan mengundang kalangan bisnis atau pengiklan untuk melihat program-program yang akan tayang. Biasanya bertujuan agar di setiap program bisa disisipkan iklan.

Digital

Over the Top (OTT): Dalam dunia video, OTT adalah istilah yang digunakan untuk layanan konten film atau streaming saluran TV via internet.

SVOD: Layanan video streaming OTT berbayar.

AVOD (Advertising-Supported Video on Demand): Layanan yang menyediakan konten video streaming OTT sekaligus inventory bagi pengiklan. Layanan seperti ini biasanya bertipe freemium dengan pilihan meningkatkan layanan ke premium untuk menghilangkan iklan.

TVOD (Transactional Video on Demand): Platform video digital yang memberikan layanan sewa dan jual konten kepada pelanggan. Layanan seperti ini terdapat pada platform seperti iTunes atau Amazon.

YouTuber: Pengguna YouTube yang biasanya konsisten memproduksi video. Hari ini YouTuber telah menjadi profesi karena share yang diperoleh dari video-video yang diproduksi sangat menggiurkan.

Influencer: Orang yang memiliki pengaruh luas karena memiliki banyak pengikut di akun media sosialnya, baik itu akun Youtube yang berbasis video atau Instagram dan Twitter.

UGC (User-Generated Content): Konten buatan pengguna yang dapat berbentuk foto, gambar, suara teks, animasi, hingga video yang diunggah pada sebuah layanan. Dalam hal ini, layanan dapat berbentuk sebuah jejaring sosial, wiki, blog, atau layanan dengan fokus pada konten video seperti Youtube.

Analitik

View: Standar pengukuran paling umum dan sederhana dalam video digital. Namun, masing-masing layanan video memiliki standarnya sendiri untuk mengukur sebuah view. Facebook dan Instagram memerlukan tiga detik setelah video diputar untuk menjadi view terkalkulasi. Berbeda dengan Snapchat dan Instagram Stories yang menghitung view sejak video diputar.

Sementara view di Youtube baru dihitung setelah video berputar selama 30 detik, baik dari awal atau pertengahan. Perbedaan pengukuran ini dinilai membuat pengiklan cukup sulit mengukur view dari masing-masing platform.

MRC (Media Rating Council): Sebuah lembaga watchdog atau pengawas dalam industri periklanan dan media. Biasanya lembaga ini bertugas untuk memastikan standar ukuran audience yang disasar sudah benar, bisa dipertanggungjawabkan, dan efektif.

Viewability: Metrik yang digunakan dalam digital advertising untuk mengukur kemungkinan iklan yang tayang telah dilihat oleh pengguna. Untuk iklan video, standar yang ditetapkan MRC, setidaknya sebuah iklan telah dilihat selama dua detik oleh pengguna.

Nielsen Rating/Share: Secara umum, Nielsen adalah lembaga yang aktif dalam pengukuran. Sejak tahun 50-an, mereka telah mengukur seberapa banyak audience yang menyaksikan sebuah program TV, seberapa tertarik audience di suatu wilayah terhadap program tertentu, dan model metrik lain. Hasil pengukuran itu kemudian dijadikan landasan data oleh stasiun TV atau perusahaan penyiaran untuk mendesain program dan merancang strategi marketing.

AMA (Average Minute Audience): Meski sama-sama berbasis visual, terdapat perbedaan karakteristik antara video digital saat ini dengan TV. Dalam industri penyiaran TV, AMA dapat digunakan untuk mengukur rata-rata audience yang menyaksikan program-program tertentu dalam hitungan menit.

Hasil metrik ini kemudian digunakan oleh pengiklan untuk menghitung potensi branding pada program tersebut. Metrik dalam AMA tentu tidak akan sesuai jika digunakan untuk mengukur video digital yang saat ini memiliki tren berdurasi pendek.

GRP (Gross Rating Point): Perhitungan matematis yang digunakan perencana strategis periklanan atau sebuah agency untuk menentukan potensi branding pada segmentasi audience tertentu. Contoh, produk A banyak diminati oleh kalangan anak muda berusia 15 – 24 tahun. Sebanyak 50 persen dari segmentasi audience dengan usia tersebut diketahui senang menyaksikan sebuah program komedi yang tayang pada waktu prime time pada pukul 20:00 – 21:30.

Agency kemudian memutuskan me-running tiga iklan antara pukul 20.00 hingga 21.00. Maka diperkirakan 50 persen dari audience yang disasar akan menyaksikan ketiga iklan tersebut.

CPM: Biaya yang dikeluarkan oleh pengiklan jika iklan yang tayang memperoleh 1000 view, klik, atau audience—tergantung dari media yang menayangkannya.

CPCV (cost per completed view): Metrik yang dipakai untuk mengukurbiaya yang mesti dikeluarkan pengiklan jika sebuah iklan disaksikan hingga tuntas.