Mobile Advertising Indonesia tak bisa diabaikan begitu saja/Cristian Dina_Pexels
Februari 15, 2019

Mengapa Anda Perlu Memperhatikan Mobile Advertising Indonesia?

By : Bizinsight

Mobile Advertising Indonesia tumbuh pesat dalam beberapa tahun belakangan. Ruang untuk berevolusi pun masih besar meski sudah menjadi pendekatan populer bisnis modern untuk meningkatkan basis pelanggan dan popularitas brands. Dalam beberapa tahun ke depan, tren ini juga belum terlihat akan melambat.

Indonesia sendiri kini tengah mengalami era digitalisasi. Meski infrastruktur TIK dan pemanfaatan teknologi belum merata, tetapi masyarakat yang bersentuhan dengan teknologi sudah cukup cerdas dalam menggunakannya. Maka dari itu, revolusi digital pun dapat terus berjalan didorong oleh teknologi-teknologi yang tak henti berinovasi untuk maju.

Untuk mobile advertising Indonesia, salah satu kunci pendorong tumbuhnya industri ini adalah konektivitas yang kian membaik dan juga harga ponsel yang makin terjangkau. Selain itu, dipengaruhi pula oleh ekosistem digital di Indonesia yang mulai matang. Pemasar yang baik – yang selalu mencapai tujuan dan memajukan bisnis, tentu tak akan melewatkan tren ini. Mereka tak akan ragu untuk beriklan di perangkat mobile.

Pergeseran dari Mobile First menjadi Mobile Only

Sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia adalah salah satu pasar dengan komoditas pengguna ponsel tertinggi. Sebutan mobile first country pun sempat disandang. Namun, dengan terus meningkatnya pengguna ponsel di Indonesia, rasanya sah saja bila kini sebutan yang pas adalah Mobile Only Country.

Menurut The Year in Search: Insights for Brands 2018 report untuk Indonesia dari Google, 94 persen masyarakat Indonesia yang terhubung online sudah memiliki ponsel pintar. Sekitar 68 persen konsumen internet di Indonesia pun mengandalkan smartphone ketika mencari informasi.

Temuan menarik lain dari laporan ini adalah tentang masyarakat di luar kota-kota besar Indonesia yang mulai mengejar ketertinggalan. Mereka mulai terhubung ke internet lewat ponsel. Mereka juga menyumbang hampir setengah dari pencarian terkait paket internet yang menandakan kelaparan akan konektivitas internet yang baik di antara mereka yang berasal dari kota-kota kecil.

Dengan semakin banyak orang yang terhubung melalui perangkat ponsel mereka, artinya pasar yang dapat dijangkau pun ikut meluas. Beriklan melalui perangkat seluler pun menjadi pilihan terbaik untuk menjangkau pasar baru ini dengan lebih efisien.

Menjanjikan Efektivitas yang Lebih Baik Dibandingkan Iklan Desktop

Harga ponsel kian terjangkau di Indonesia, orang-orang semakin banyak yang terhubung ke internet melalui ponsel, otomatis waktu yang dihabiskan dengan ponsel pun bertambah. Dalam beberapa tahun ke depan, akan ada lebih banyak bola mata yang terpaku pada layar sebesar 4-6 inchi. Pemasar yang baik, tentu tak akan mengabaikan hal ini.

Mobile advertising Indonesia pun menjanjikan efektivitas yang lebih baik bila dibandingkan dengan iklan di desktop. Salah satu alasannya adalah kemampuan dalam membidik target penerima iklan yang lebih akurat. Misalnya berdasarkan tipe ponsel, penggunaan paket data/pulsa dalam sebulan, lokasi si penerima iklan, dan masih banyak lagi.

Perkara dampak yang ditimbulkan oleh iklan, pemasar bisa memilih penyampaian pesan iklan melalui video atau yang berbentuk playable ads. Di tahun 2018, video memang menjadi salah satu primadona pemasaran. Perusahaan rintisan maupun yang sudah mapan pun cukup gencar merilis video pemasaran dengan konsep yang menghibur tetapi dapat mengedukasi target pasarnya.

Data dari Ericsson Mobility Report 2018 pun menyebutkan bahwa lalu lintas data video di jaringan seluler diperkirakan akan tumbuh sekitar 35 persen per tahun hingga 2024 dan membuat 74 persen lalu lintas data seluler akan berasal dari video.

Masih Ada Banyak Ruang untuk Tumbuh Bagi Industri Mobile Advertising Indonesia

Pengeluaran untuk iklan seluler diprediksi akan mencapai hampir 50 persen dari total pengeluaran iklan digital pada tahun 2019, atau mencapai $312 juta (sekitar Rp4,4 triliun) menurut eMarketers. Sementara itu, secara umum, ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan tumbuh hingga $100 miliar (sekitar Rp1.408 triliun) pada tahun 2025 menurut Google e-Conomy SEA 2018. Jelas, masih ada banyak ruang untuk pertumbuhan industri mobile advertising Indonesia di sini.

Terlepas dari sisi uang, bentuk-bentuk baru dari periklanan mobile pun masih banyak yang bisa dieksplorasi. Format iklan tradisional seperti iklan bergambar dan spanduk pasti memiliki tempatnya. Lagipula, mereka mudah dimasukkan dan bila diletakkan dengan benar, tidak akan mengganggu. Namun, kehadiran media baru seperti Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), hingga realitas campuran tentu tak boleh diabaikan karena dapat memberikan pengalaman yang lebih kaya bagi konsumen.

Take Away

Karena membeli smartphone yang layak bukan lagi pilihan yang mewah, iklan seluler menjadi titik kontak pertama bagi pengiklan untuk memasuki ruang pribadi pengguna Indonesia. Orang-orang akan semakin terhubung secara daring dan pemasar perlu memikirkan ulang cara berinteraksi dengan pengguna di luar taktik pemasaran tradisional.

Munculnya lebih banyak iklan yang dipersonalisasi di perangkat seluler sebenarnya sudah diantisipasi dari jauh-jauh hari. Dengan lebih banyak orang yang terhubung ke internet, artinya akan ada lebih banyak data pengguna internet yang dapat dikumpulkan dari penggunaan smartphone. Tantangan yang harus dipecahkan adalah bagaimana memanfaatkan data pengguna untuk mendorong lebih banyak konversi.

Dengan lebih banyak data, sebenarnya bentuk penargetan iklan pun akan berubah. Pemasar perlu melihat lebih jauh dari hanya sekedar penargetan demografis tradisional ke advanced behavior targeting. Transformasi pendekatan penargetan inilah yang secara signifikan dapat meningkatkan efektivitas iklan digital dan mendorong lebih banyak transaksi ke depannya.