Kuki pihak ketiga berhenti didukung oleh Google/Pixabay
Editorial Juni 22, 2020

Penghentian Dukungan Third Party Cookie oleh Google dan Dampaknya kepada Merek

By : Bizinsight

Awal tahun 2020 ini, Google mengumumkan bahwa dalam dua tahun ke depan mereka akan menghentikan dukungan terhadap third party cookies (kuki pihak ketiga). Langkah ini pada akhirnya menimbulkan pertanyaan tentang masa depan industri periklanan digital. Salah satu alasan terbesarnya karena monopoli Google Chrome di pasar browser.

Apa itu Kuki dan Kuki Pihak Ketiga?

Kuki browser sudah ada lebih dari 25 tahun silam. Ia adalah file teks kecil yang disimpan pada perangkat keras pengguna. Fungsinya untuk mengidentifikasi pengguna tersebut setelah mengunjungi sebuah situs.

Agar dapat mengidentifikasi pengguna, ada beberapa komponen data yang membentuk Kuki browser. Pertama, nama server yang menempatkannya. Kedua, pengidentifikasi non-nominatif dalam bentuk nomor ID unik. Ketiga, tanggal kedaluwarsa Kuki. Sampai saat ini, ada dua jenis Kuki browser yang paling dikenal yaitu Kuki Pihak Pertama dan Kuki Pihak Ketiga.

Kuki Pihak Pertama (First Party Cookies) adalah Kuki yang dibuat oleh domain host – situs web yang dikunjungi pengguna. Jenis kuki ini umumnya dianggap baik karena dapat membantu memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik dan menjaga sesi tetap terbuka. 

Pada dasarnya, dengan kehadiran Kuki Pihak Pertama, berarti browser dapat mengingat informasi-informasi kunci. Contohnya ketika Anda menambahkan item ke keranjang belanja, nama pengguna dan kata sandi, dan preferensi bahasa.

Sementara Kuki Pihak Ketiga (Third Party Cookies) adalah Kuki yang dibuat oleh domain selain yang dikunjungi oleh pengguna pada saat itu. Kuki ini umumnya digunakan untuk tujuan pelacakan dan periklanan online. Mereka juga memungkinkan pemilik situs web untuk menyediakan layanan tertentu, seperti live chat.

Contoh, ketika Anda mengunjungi situsberita.com, ia akan membuat kuki pihak pertama dan menyimpannya ke komputer Anda. Karena, seperti kebanyakan penerbit lainnya, mereka menggunakan iklan daring sebagai cara untuk memonetisasi kontennya. 

Iklan tersebut juga akan membuat kuki (misalnya dalam domain ads.somedsp.com) dan menyimpannya di komputer Anda. Karena kuki ini tidak dibuat oleh situsberita.com, maka kuki tersebut diklasifikasikan sebagai kuki pihak ketiga.

Mengapa Google mengambil keputusan ini?

Kuki pihak ketiga ini banyak digunakan untuk periklanan digital. Tujuannya, agar para pengiklan dapat mengidentifikasi pengguna untuk mengirimkan iklan yang relevan lintas situs web di internet sampai melakukan penargetan ulang. Akan tetapi, ini justru memicu isu privasi karena penggunaan kuki secara luas berarti bahwa data terfragmentasi di seluruh situs web, perangkat, aplikasi, dll.

Keputusan yang diambil Google untuk berhenti memberi dukungan pada kuki pihak ketiga dalam dua tahun ke depan tentu bukan tanpa pertimbangan. Menurut Chrome’s Director of Engineering Justin Schuh, ini karena meningkatnya kekhawatiran tentang privasi data.

Justin menyampaikan dalam tulisan blog bahwa pengguna menuntut privasi yang lebih besar. Hal ini termasuk transparansi, pilihan, dan kontrol atas bagaimana data mereka digunakan. Maka, jelas ekosistem web perlu berevolusi untuk memenuhi peningkatan permintaan ini.

Pun begitu, inisiatif yang diambil Google ini sebenarnya bukan hal baru. Apple telah membuat langkah yang serupa pada tahun 2017. Begitu juga Mozilla dan Chromium-Based Edge browser yang baru diluncurkan oleh Microsoft. Ke depan, kompetisi browser pun akan menjadi sangat berbeda.

Dampaknya kepada Brands

Ketika Google membuat pengumuman ini, indikasi awal yang diterima oleh industri periklanan digital tentu saja tidak begitu baik. Saham-saham dari beberapa perusahaan perangkat lunak saingan jatuh ketika pengumuman ini dibuat.

Akan tetapi, sekali lagi, inisiatif Google ini tidak bermaksud untuk membunuh industri teknologi periklanan. Di samping respon negatif, tak sedikit juga yang memberikan respon positif terhadap inisiatif ini. 

Penggunaan kuki pihak pertama pun pada akhirnya akan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Meski perusahaan seperti Amazon, Google, dan Facebook akan terus berkembang karena mereka terus memiliki akses ke data pihak pertama, penerbit dan pengiklan juga memiliki kesempatan yang sama untuk mengarahkan audience ke situsnya.

Di samping itu, kesempatan untuk berkolaborasi antar pemegang data pihak pertama pun dapat digali lebih jauh. Seperti dengan Telkomsel DigiAds yang telah mengoptimalkan teknologi manajemen data sejak 2014 untuk dapat menghasilkan wawasan tentang perilaku konsumen secara kolektif. 

Para pemilik merek dapat mengoptimalkan metode pemasaran yang dikombinasikan dengan pengelolaan data ini lewat berbagai macam layanan Telkomsel DigiAds yang dapat menghubungkan merek ke lebih dari 160 juta pelanggan Telkomsel di seluruh Indonesia sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, merek dapat meningkatkan kemampuannya untuk memberikan penawaran yang tepat kepada konsumen.

Telkomsel DigiAds adalah bagian dari keluarga besar Telkomsel. Dengan media iklan yang luas, inventori terverifikasi, dan teknologi periklanan yang maju, kami ingin menjadi “digital marketing solutions provider” terbaik di Indonesia. Jika Anda memiliki pertanyaan, hubungi kami melalui email di digitalads@telkomsel.co.id dan kami akan dengan senang hati membantu. Anda juga dapat mengikuti kami di media sosial seperti Instagram dan LinkedIn untuk mengetahui lebih banyak tentang insight dan juga kegiatan terbaru kami.

[Image source: StockSnap from Pixabay]