Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising/Shutterstock
Juni 21, 2019

Peran Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising

By : Bizinsight

Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising adalah keniscayaan yang tak bisa dipisahkan dalam dunia pemasaran digital saat ini. Tanpa Artificial Intelligence (AI), Programmatic Advertising mungkin tak akan bisa melangkah sejauh ini. Begitupun sebaliknya, Programmatic Advertising tanpa AI mungkin tak bisa bernafas.

Dalam artikel sebelumnya, kami sudah pernah membahas tentang programmatic advertising atau iklan terprogram. Ini adalah proses otomatis untuk membeli dan menjual inventaris/ruang iklan melalui bursa yang menghubungkan pengiklan dan penerbit. Konsep dasarnya adalah pengiklan melakukan penawaran dalam waktu nyata untuk mendapatkan ruang iklan yang dapat mengirimkan iklan mereka kepada khalayak dengan target profil yang sesuai.

Lalu, di mana peran artificial intelligence dalam programmatic advertising?

Kata kuncinya ada di “penawaran” dan “target profil”. Kedua area tersebut adalah tempat artificial intelligence mengambil peran dalam iklan terprogram.  

Artificial Intelligence

Artificial Intelligence/Pixabay by Seanbatty

Artificial Intelligence/Pixabay by Seanbatty

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah istilah yang awalnya diciptakan di tahun 1956 dan berakar pada psikologi untuk memahami dan meniru bagaimana pikiran bekerja. Namun, dengan peningkatan eksponensial di bidang teknologi selama 60 tahun terakhir, AI kini sering dikaitkan dengan ilmu komputer.

Pun begitu, bukan berarti AI tak pernah mengalami penurunan kepercayaan untuk pengembangan. Dalam wawancara bersama DailySocial, Jim Geovedicomputer scientist praktisi machine learning, menyampaikan bahwa AI juga sempat mengalami penurunan kepercayaan untuk pengembangannya di tahun 1970-an.

Kondisi itu disebut “AI Winter” di kalangan pengembang dan butuh satu dekade untuk bisa bangkit kembali. Itu pun setelah sejumlah inisiatif komersil muncul dengan target-target yang realistis dan tidak se-ambisius sebelumnya.

AI sendiri secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kecerdasan yang diperlihatkan mesin. Artinya, AI dapat belajar, memecahkan masalah, hingga merencanakan. Bila perlu, ia juga dapat diprogram untuk mengenali objek, menginterpretasikan data yang kompleks, dan memindahkan objek (robot dan kendaraan tanpa awak).

Dalam konteks pemasaran, AI banyak digunakan untuk mempelajari dan mengantisipasi tindakan konsumen daripada fokus pada perilaku masa lalu. Misalnya, pemasar dapat memperkirakan probabilitas konsumen akan merespons iklan mereka untuk menentukan seberapa besar tawaran yang diperlukan. AI juga dapat digunakan untuk membuat model yang dapat menemukan pengguna dengan potensi tinggi menjadi pelanggan untuk meningkatkan penargetan iklan.

Real-Time-Bidding

Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising di Konsep RTB/Source: Clearcode

Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising di Konsep RTB/Source: Clearcode

Seiring dengan berjalannya waktu, konsep iklan terprogram terus berkembang. Berbagai cara media online dapat dibeli secara terprogram pun muncul. Salah satunya yaitu melalui real-time bidding (RTB).

RTB memungkinkan pengiklan untuk membeli ruang iklan berdasarkan tayangan demi tayangan melalui lelang di pasar terbuka. Artinya pengiklan mana pun dapat menawar dan membeli ruang iklan di situs web penerbit.

Prosesnya kurang lebih seperti ini, pengiklan (seperti merek) atau biro iklan menyiapkan kampanye iklan di DSP (Demand Side Platform). DSP terhubung ke bursa iklan (ad exchange), yang terhubung ke inventaris dari jaringan iklan (ad network) dan SSP (Supply Side Platform).

Setiap kali ruang iklan di situs penerbit tersedia, SSP penerbit mengirimkan permintaan penawaran ke pertukaran iklan. Pertukaran iklan kemudian mengadakan lelang antara berbagai DSP, tempat mereka menawar tayangan yang diajukan oleh jaringan iklan atau SSP. Ketika DSP memenangkan penawaran, iklan pengiklan diteruskan ke penerbit dan ditampilkan kepada pengunjung.

Lalu peran artificial intelligence dalam programmatic advertising ada di mana? Seperti yang sudah disebutkan di atas, AI berperan di area penawaran dan profil penargetan iklan.

Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising

Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising/Shutterstock

Artificial Intelligence dalam Programmatic Advertising/Shutterstock

Migrasi pemasaran ke iklan terprogram dan RTB ini telah membuka jalan bagi perangkat lunak AI. Lewat AI, penawaran terhadap impresi yang diinginkan, bagaimana iklan yang dibuat dan disajikan ke konsumen telah berubah. Kunci agar AI dapat diadopsi dengan baik ada pada data.

Ketika seseorang berselancar di internet, dia akan membawa data-data berharga bersamanya. Mulai dari kapan dia berselancar, apa yang dia cari, apa yang dia kunjungi, apa yang dia klik, sampai konten seperti apa yang disukai melalui media sosialnya.

Semakin banyak data yang dapat dikumpulkan tentang seseorang ini, semakin akurat profilnya akan terbentuk. Data dapat bersumber dari pemasar itu sendiri, dari cookie browser, dan dari agregator pihak ketiga.

AI dapat mengelompokkan data tersebut untuk membuat profil pengguna teragregasi. Dia dapat mendeteksi pola yang menghubungkan atribut bersama dengan cara yang mungkin terlewatkan oleh manusia. Dipersenjatai dengan data ini, AI dapat memasuki pelelangan RTB dengan daya prediksi luar biasa. Ia tahu pelanggan mana yang rata-rata akan menjadi yang berharga yang ingin mendapatkan iklan di depan, dan mana yang harus dihindari.

Namun, data peselancar di internet saja tidak cukup. AI kembali dibutuhkan untuk menganalisa dan bertindak dengan cepat di RTB. AI dapat membantu pemasar untuk memprediksi perilaku konsumen dan mengambil keputusan dalam milidetik berdasarkan kondisi penawaran yang harus dipenuhi.

Peluang di Depan

AI sendiri masih memiliki peluang besar di dunia pemasaran. Ke depannya, AI dalam pemasaran dapat membantu dalam membuat pesan yang lebih personal, pelaksanaan kampanye yang lebih cepat, dan lebih banyak keuntungan jual-beli lainnya.

Bayangkan juga apabila Anda dapat mengetahui suasana hati target pelanggan. Anda dapat menyesuaikan pesan dan materi iklan untuk meningkatkan kemungkinan mereka mengambil tindakan yang diinginkan. Ini akan menjadi mungkin terjadi dengan AI. Dengan kemampuan untuk mengetahui sentimen pelanggan, pemasar akan tahu apakah individu tersebut dalam suasana hati untuk membeli atau tidak.

Satu hal lagi yang perlu diingat, AI tak akan mengambil pekerjaan semua orang. Ketika pemasar lebih memahami konsep AI dan apa yang dapat dilakukannya, mereka akan melihat ada peluang dalam membiarkan mesin melakukan beberapa tugas manual yang monoton. Dengan demikian, mereka dapat melakukan hal-hal lain yang lebih strategis.