April 12, 2019

Teknologi 5G, Periklanan Digital, dan Revolusi Industri ke-4

By : Bizinsight

Teknologi 5G disebut-sebut sangat mungkin menjadi fase finalisasi yang akan membawa manusia saat ini ke era Revolusi Industri ke-4. Teknologi 4G yang kita gunakan saat ini saja telah menjadi pintu dari berbagai inovasi dalam digitalisasi. Sebut saja video streaming, kecerdasan buatan (artificial intelligence), realitas tertambah (augmented reality), dan realitas virtual (virtual reality).

World Economic Forum mengatakan, terobosan-terobosan di atas adalah sejumlah indikator perkembangan teknologi di zaman ini yang sangat mungkin mengantarkan kita masuk ke era Revolusi Industri ke-4. Lalu, bagaimana jika teknologi 5G mulai mapan dan digunakan secara global?

Akankah Teknologi 5G Menjadi Penentu Peralihan Era Industri Menuju Revolusi Industri ke-4?

Fase-fase Revolusi Industri berikut inovasi-inovasinya/Shutterstock

Fase-fase Revolusi Industri berikut inovasi-inovasinya/Shutterstock

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat sejarah. Menurut sejarah, dari setiap peralihan era industri baru, terdapat satu terobosan besar yang memberi dampak pada cara manusia bekerja.

Pada Revolusi Industri ke-1 (1700-1850), penemuan teknik penguapan sebagai energi penggerak telah mengubah cara bekerja manusia secara revolusioner. Mesin uap pun mengganti peran hewan yang sebelumnya lebih dominan sebagai tenaga pembantu.

Begitu pula pada Revolusi Industri ke-2 ketika penemuan tenaga elektrik membuat manusia memiliki kemudahan dalam produksi barang secara massal. Lalu di Revolusi Industri ke-3 ditandai dengan perkembangan alat elektronik dan teknologi informasi yang membuat proses produksi menjadi terotomasi.

Maka yang perlu diamati dari teknologi 5G adalah seberapa luas dampaknya terhadap kehidupan manusia, khususnya cara kerja industri saat ini. Jika dilihat dari kemajuan digital yang berhasil mendisrupsi hampir sebagian industri saat ini, teknologi 5G memang sangat mungkin menjadi fase final yang akan membawa manusia saat ini ke era Revolusi Industri ke-4. Akan tetapi, ini tentu membutuhkan waktu hingga teknologi 5G mulai mapan digunakan untuk kebutuhan industri.

Untuk saat ini, mari tinggalkan sejenak pandangan makro futuristik dari 5G dengan berbagai dampak revolusionernya, dan melihat dengan perspektif mikro-fituristik yang akan dihasilkan dari teknologi ini.

Fituristik

Secara umum, dampak paling signifikan yang akan dirasakan di era 5G akan terletak pada kecepatan dan proses data. Saat ini, ketika kita mengakses suatu link, ada latensi yang terjadi sepersekian milidetik atau satu detik sebelum masuk ke laman yang ingin dituju. Bagi pengiklan, hal ini bisa dinilai sebagi suatu kerugian.

Menurut studi yang dilakukan oleh Interactive Advertising Bureau, latensi tersebut bisa membuat pengunjung berpikir untuk beralih ke situs lain meski delay tersebut terbilang tidak signifikan. Lalu bagaimana perbandingan kecepatan antara 5G dengan 4G?

Berdasarkan data 5G.co.uk, 5G bisa 1000 kali lebih cepat dibanding teknologi 4G tercepat yang ada saat ini. Dengan kecepatan seperti itu, kata latensi pun nampaknya sudah tidak lagi relevan untuk digunakan.

Sebagai gambaran, bayangkan mengunduh file dengan kecepatan 10 sampai 20Gbps! Mengunduh video dengan kualitas 4K bisa selesai hanya dalam hitungan detik. Bahkan pada 2017 lalu, Telkomsel bekerja sama dengan Huawei melakukan live demo teknologi 5G yang berhasil mencatat kecepatan akses data 70Gbps.

Dampaknya Bagi Dunia Periklanan Digital

Pada saat yang sama, teknologi 5G memiliki keunggulan dalam memproses data secara lebih cepat dan stabil. Ini memungkinkan pengiklan untuk membuat konten yang lebih kompleks dan berkualitas tinggi. Misalnya, video streaming dengan kualitas 4K dan 8K yang diperkirakan menjadi norma baru dalam periklanan digital.

Ke depan, diprediksi akan muncul format-format baru untuk iklan digital yang juga akan mengubah bagaimana pengiklan berinteraksi dengan pelanggan. Misalnya video-ads (outofhome) di fasilitas-fasilitas publik seperti commuter line dan halte busway yang bisa merespons secara real time.

Tidak hanya itu, Cnet bahkan mengilustrasikan, 5G bisa memfasilitasi terjadinya ‘interaksi’ dua arah antara viewers dengan obyek tayangan yang sedang mereka tonton. Jika seorang sedang menyaksikan sebuah video interaktif dengan ponsel dual-camera-nya, alur cerita dari video tersebut bisa mengikuti kondisi emosional sang penonton berdasarkan face-recognition.

Prediksi ini terdengar agak berlebihan. Namun, jika dilihat dari salah satu indikator 5G yang memiliki kapasitas ultra-responsif dan mampu memberi reaksi secara langsung dari respons fisik, hal ini mungkin saja terjadi.

Baik marketers, pengiklan, atau agency yang bergerak di bidang pemasaran digital mungkin sudah memahami apa yang mesti dipersiapkan untuk beradaptasi dengan 5G. Tentu saja teknologi yang kompatibel dengan terobosan-terobosan yang lahir dari rahim jaringan the fifth generation ini.

Pengembangan 5G di Indonesia

Di Indonesia, tren teknologi 5G nampaknya belum akan menjadi norma baru dalam industri digital tahun ini. Akan teteapi pengembangan terus dilakukan.

Sebagai operator jaringan telekomunikasi dan digital terbesar di Indonesia, Telkomsel telah memberikan pengalaman layanan teknologi 5G pertama kepada masyarakat selama perhelatan Asean Games 2018 berlangsung. Hingga saat ini, Telkomsel terus berupaya mematangkan kesiapan jaringan dan infrastruktur 5G di Indonesia.

Pada Februari lalu, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengumumkan kemitraannya dengan dua perusahaan teknologi terkemuka di dunia Cisco dan Huawei.

CEO PT. Telkom Group Alex J. Sinaga (kiri atas), Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah (kiri bawah), Rotating Chairman Huawei Guo Ping (kanan atas) dan Presiden Wilayah South Pacific Huawei Jeffrey Liu (kanan bawah) berfoto bersama usai penandatangan kerja sama pematangan kesiapan 5G di Indonesia, di Barcelona, Spanyol, Kamis (28/2). FOTO: Dok. Telkomsel

“Dua kerja sama strategis ini merupakan bentuk nyata dalam pematangan kesiapan teknis Telkomsel untuk pengaplikasian jaringan 5G di Indonesia, demi mendukung Indonesia mencapai visi Indonesia Digital 2025,” ujar Ririek menekankan komitmen organisasi yang dia pimpin untuk mengantarkan Indonesia ke gerbang revolusi digital melalui 5G.

Suatu tranformasi yang revolusioner tidak bergerak menceruk ke dalam sebagaimana teknologi 5G diharapkan tidak hanya berkembang pada industri digital. Namun, juga mampu mempengaruhi industri secara lebih luas sehingga memberi dampak positif bagi manusia.

World Economic Forum (WEF) menggambarkan, manfaat dari teknologi 5G juga mesti diterjemahkan ke sektor-sektor krusial seperti layanan kesehatan, agrikultur, pendidikan, serta aspek penting bagi kehidupan manusia lainnya. Dalam dunia digital di mana inovasi bergerak cepat, perusahaan-perusahaan seperti seperti Telkomsel berkomitmen untuk menjadikan kemajuan tersebut dapat dirasakan secara luas manfaat positifnya oleh masyarakat Indonesia.