Juli 13, 2018

Dampak Teknologi 5G pada Industri Periklanan Digital

By : Bizinsight

Internet cepat buat apa? Kalimat ini pernah menjadi viral di Indonesia dan tak butuh waktu lama, jawaban untuk pertanyaan tersebut pun datang.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, masyarakat Indonesia telah dimanjakan oleh pesatnya perkembangan teknologi. Bahkan, bagi sebagian orang, hidup tanpa teknologi bisa menjadi seperti makan sop tanpa garam. Hambar. Ya, sedekat itulah teknologi dengan kehidupan sehari-hari saat ini.

Kemudian, ketika teknologi 4G mulai dipakai secara luas, perubahannya pun makin terlihat. Pergeseran perilaku penggunaan teknologi dari desktop ke mobile, bisnis-bisnis digital tumbuh subur, dan berbagai startup teknologi mulai lepas lendas dengan kencang.

Lihat saja bagaimana Go-Jek dan layanan ride-sharing lainnya melenggang di pasar Indonesia. Pasar-pasar online mulai menggemuk dengan lonjakan jumlah pengguna, penjual, juga lalu lintas layanan. Jangan tanya bagaimana angkanya ketika musim liburan seperti lebaran, natal, dan tahun baru tiba. Tinggi!

Belum lagi pertumbuhan video streaming, toko aplikasi, hingga terbukanya pintu untuk teknologi seperti virtual reality, augmented reality, dan artificial intelligence yang lebih baik. Lalu, bagaimana dengan teknologi 5G yang merupakan fase berikutnya dari standar telekomunikasi seluler melebihi standar 4G saat ini?

Periklanan Digital dan Teknologi 5G

Comparing 4G and 5G/Qorvo

Comparing 4G and 5G/Qorvo

Bila 4G sudah bisa membuka luas peluang-peluang baru, 5G yang digadang-gadang seratus kali lebih cepat tentu akan membuka lebih banyak lagi pintu peluang bisnis baru. Bayangkan self-driving car yang mungkin akan menjadi pemandangan sehari-hari di jalan, konsep smart city dan smart home yang mulai dipakai dengan luas, dan masih banyak lagi. Lalu, apa artinya ini bagi para pemasar dan pemain di dunia periklanan digital?

Dengan kecepatan yang lebih tinggi, pada akhirnya ini akan mempengaruhi lebih dari sekadar screen-time seluler dan desktop. Pengiklan dan penerbit pun memperkirakan akan ada lebih banyak format iklan baru dan opsi penetapan harga karena perangkat yang terhubung ke Internet akan menjadi lebih terjerat daripada sebelumnya, dan pengiklan akan dapat mempersonalisasi pesan mereka ke perangkat atau layar apa pun, tidak peduli waktu atau tempat. Artinya:

Extreme personalization

Penargetan yang lebih terperinci (granular) menjadi lebih memungkinkan dengan teknologi 5G. Pun begitu, cara atau kedalaman sebuah brands berkomunikasi dengan konsumen juga akan lebih berkembang, lebih luas, dan lebih banyak lagi muncul opsi premium. Ke depannya, sifat dasar periklanan pun akan berubah, menjadi lebih intim dengan target pasar.

Video dimana saja

Sudah bukan rahasia lagi bahwa saat ini konsumsi video di masyarakat terus mengalami peningkatan. Di tahun 2015 saja belanja iklan video seluler melonjak 80,6% menurut eMarketer dan diprediksikan akan terjadi pertumbuhan dua digit hingga tahun 2019.

Dengan kehadiran 5G, konsumen akan dapat mengunduh film 4K dalam 10 menit, sekitar seperenam waktu yang diperlukan untuk melakukannya dengan 4G. Bagi pengiklan hal ini berarti bahwa video akan menjadi media yang lebih efektif untuk penargetan. Terbebas dari kelesuan koneksi 4G yang relatif, pemasar akan dapat menawarkan pengalaman video yang lebih kaya kepada khalayak di perangkat seluler yang tidak dapat dilakukan hari ini.

Peluang baru di teknologi canggih

Selain personalisasi dan video, masih ada pintu-pintu peluang baru di teknologi AR/VR yang dapat memberikan pengalaman lebih kaya dalam berinteraksi. Teknologi-teknologi yang canggih ini akan menjadi semakin lumrah. Konsep internet of things yang mulai nyata pun akan membuat mobil, rumah, dan perangkat sehari-hari menjadi lebih terhubung, menghasilkan jumlah data yang luar biasa.

Bayangkan, Anda sebagai pengiklan memberikan pengalaman penggunaan produk melalui teknologi AR/VR kepada konsumen secara langsung tanpa harus datang ke rumah. Lalu, Anda masih bisa mendapat data berharga tentang pengalaman mereka.

Pun begitu, bila harus ditanya sekali lagi, apakah ada yang bisa menerka dampak menyeluruh dari implementasi 5G ini, jawaban paling masuk akal yang bisa diberikan adalah tak ada yang benar-benar tahu. 5G masih dalam tahap uji coba di berbagai sisi. Meski secara infrastruktur sudah banyak yang siap, termasuk Indonesia, lain halnya bila dilihat secara menyeluruh di ekosistemnya.

Lagipula, ketika 4G mulai dipakai dengan luas, siapa yang pernah menyangka layanan seperti Uber atau Instagram bisa berkembang dengan cepat. Lalu, apakah pernah ada yang memikirkan sesuatu seperti Pokemon Go?

Memang terdengar seperti anti-klimaks, tetapi itulah kenyataanya. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah mempersiapkan berbagai halnya dengan matang untuk menerima kehadiran 5G. Mulai dari pengetahuan, skillset, teknologi, sumber daya, dan lain sebagainya. Selain itu, terus  juga menggali berbagai peluang baru yang terlihat agar tak tertelan arus perubahan yang kencang.

Tak ada salahnya gagal mencoba, yang salah adalah bila sudah jatuh tak mau berdiri dan berjalan lagi. Bila sudah demikian, bukan tak mungkin bisnis Anda yang jatuh akan dilupakan dan mati dengan tenang tanpa ada yang tahu.

[Img Source: Pexels and Pixabay]