Perubahan dalam Periklanan Digital / MasashiWakui - Pixabay
April 26, 2018

Tiga Perubahan yang Perlu Diperhatikan dalam Periklanan Digital

By : Bizinsight

Teknologi telah berubah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dalam beberapa dekade terakhir dan disadari atau tidak, telah membentuk kehidupan dan perilaku kita dalam banyak cara. Dari internet, komunikasi, jejaring sosial, hingga teknologi canggih lainnya, selalu membawa cara baru dalam melakukan sesuatu dan mau tidak mau, cepat atau lambat, yang lama dan tidak menerima perubahan akan mati. Industri periklanan, sama seperti industri lain di era digital ini, merasakan tekanan yang sama untuk itu, untuk merangkul seberapa cepat teknologi berkembang dan seberapa cepat industri bereaksi terhadapnya.

Periklanan sendiri telah mengalami banyak perubahan karena dunia digital dan ketika teknologi seluler mulai populer di pasar, “tahunnya mobile” pun menjadi perbincangan hangat. Hal ini tidak salah, karena bola mata orang-orang memang sudah ada di sana. Jika Anda selalu mengikuti laporan dari We Are Social pun, Anda dapat melihat bahwa sebagian besar orang Indonesia kini telah mengakses internet dari perangkat seluler mereka dan menghabiskan banyak waktu di sana.

Jadi, beriklan di ranah seluler saat ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Namun, Anda tidak bisa berhenti di situ. Dengan semua perubahan yang terjadi di industri teknologi, tidak dapat disangkal juga bahwa mekanisme pengiriman dan strategi pun telah mengalami pergeseran paradigma dalam satu atau dua dekade terakhir. Pengiklan perlu memahami lebih dari sekedar di mana audiens mereka berkumpul hari ini, mereka juga perlu mempertimbangkan beberapa faktor lainnya juga.

Audience Demographics

Perusahaan seperti Facebook dan Google telah memberikan contoh yang baik dalam memanfaatkaan wawasan penggunanya secara mendalam. Dari sana, kita bisa menemukan bahwa pengguna sebuah layanan bisa sangat beragam dan membuat sebuah iklan untuk semua kalangan, belum tentu menjadi se-efektif dan se-efisien yang kita bayangkan.

Namun, demografi pengguna pun terus bergerak, apalagi di Indonesia yang sudah sejak beberapa tahun belakangan ini diprediksikan akan memiliki bonus demografi. Mulai dari tahun 2010 sampai 2030-an, Indonesia disebutkan akan mengalami masa transisi ketika penduduk produktif semakin banyak jumlahnya jika dibandingkan dengan penduduk yang tidak produktif. Sebuah anugerah yang dapat menjadi bencana bila tidak dapat disikapi dengan bijak.

Perubahan demografi ini juga akan berdampak pada setiap industri yang berjalan, termasuk industri periklanan digital. Memahami perubahan demografi dapat membantu Anda untuk menghindari pemasaran dengan biaya yang tinggi tetapi tidak memberikan timbal balik yang diharapkan. Singkatnya, Anda dapat menggunakan demografi untuk mengidentifikasi pelanggan Anda lebih dalam dan menjangkaunya dengan cara yang tepat dan disukai oleh mereka.

Distribution Channel

Sebelum Anda memutuskan untuk mengunakan saluran distribusi iklan yang mana, tentu Anda harus mengevalusi saluran distribusi mana yang terbaik dan dapat membantu dalam mengembangkan bisnis secara agresif. Tapi, mari melihat sedikit data statistik yang bisa membantu Anda berpikir.

Saat ini tingkat konsumsi video terus meningkat. Di tahun 2016 lalu saja, lebih dari 500 juta jam dihabiskan untuk menonton video Youtube yang pada saat itu memiliki lebih dari satu miliar pengguna. Di samping itu, konsumsi video juga disebutkan telah menyumbang lebih dari 50 persen trafik data seluler yang berarti kebanyakan konsumen kini lebih senang mengkonsumsi video dari perangkat mobile. Angka ini pun diprediksikan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan pola konsumsi yang terus berubah, pengiklan perlu memahami pentingnya “kendaraan” yang mereka gunakan untuk menyampaikan pesan mereka kepada konsumen yang tepat. Jika Anda tidak menyampaikan pesan Anda dalam format yang tepat di platform yang tepat, bukan tidak mungkin Anda akan segera ditinggalkan.

Content

Dengan pergeseran demografi yang terus terjadi dan juga pola konsumsi yang berubah, hal ini menuntut pengiklan untuk dapat beradaptasi dalam membuat konten yang dapat diterima oleh target pasarnya.Ya, konsumen, pada dasarnya memang tidak bodoh. Mereka tidak akan mau menelan mentah-mentah sebuah iklan bila pesannya tidak kuat dan dirasa tidak memiliki “nilai” yang punya kaitan dengan dirinya. Di tambah lagi, saat ini tidak sedikit juga konsumen yang menggunakan perangkat lunak untuk memblokir iklan.

Alternatifnya, pengiklan dapat membuat konten dalam bentuk native advertising yang memang dirancang untuk tersamar, menyatu dengan gaya dan struktur konten halaman dan situs web yang menampilkannya, dan bahkan tidak terfokus pada promosi produk. Konten seperti ini biasanya muncul sebagai pos yang disponsori di platform media sosial dan situs lain, seperti tweet yang dipromosikan, fitur video di Youtube, konten yang disarankan untuk dibaca atau dilihat dan banyak lagi.

Di samping itu, pengiklan juga dapat menjajaki kerja sama dengan para pembuat konten yang memiliki pengaruh kuat, atau lebih dikenal dengan inluencer marketing. Melalui cara ini merek bisa menyampaikan pesannya di depan audiens mereka dengan cara yang tidak terasa seperti iklan. Konsumen yang terhubung dengan influencer pun biasanya mempercayai apa yang mereka katakan, asalkan influencer itu asli dan autentik.

Langkah untuk bekerja sama dengan influencer ini pun sebenarnya bisa menjadi tricky karena setelah langkah ini diambil konten yang dihasilkan pun harus datang secara alami. Jika tidak, timbal balik yang Anda inginkan pun bisa saja tidak sesuai harapan.

Pada akhirnya, untuk merangkul perubahan yang terjadi, Anda memang harus menghabiskan waktu dan anggaran di tempat yang tepat yang saat ini mungkin lebih mengarah pada mobile dan video. Lakukan juga riset untuk memahami audiens Anda lebih dalam, saluran mana yang mereka gunakan, dan jenis konten apa yang mereka konsumsi. Gunakan wawasan yang Anda peroleh untuk menciptakan pesan yang kuat dalam kampanye iklan Anda. Namun, di saat yang bersamaan, Anda juga harus siap untuk perubahan berikutnya yang akan terjadi.