Desember 26, 2018

Top 4 Tren Media Sosial untuk Digital Marketing di 2019

By : Bizinsight

Dalam dunia digital marketing, berbagai ide dan inovasi campaign seperti berebut untuk mencuat ke permukaan. Papan reklame statis di persimpangan jalan tidak lagi sanggup mewadahi disrupsi ide-ide yang yang hari ini berpindah saluran ke berbagai platform media sosial. Kemunculan ide-ide itu kemudian memunculkan efek euforia yang dalam hitungan menit bisa menjadi tren dan semua orang pun sibuk membicarakannya, di dunia maya hingga ke dunia nyata.

Ya, media sosial memang telah menjadi agregator tren yang menginspirasi letupan ide-ide kreatif. Di penghujung tahun ini, Bizinsight akan mengulas empat tren yang diperkirakan akan ampuh digunakan sebagai strategi marketing di media sosial pada 2019.

Fitur Stories

Perusahaan konsultan marketing global Block Party dalam laporannya pada 2018 menyebutkan bahwa tingkat share melalui fitur stories meningkat 15 kali lebih cepat ketimbang membagikannya melalui dinding home  atau feed. Snapchat, Instagram, dan Facebook merupakan platform media sosial yang banyak digunakan untuk aktivitas tersebut. Modal yang dibutuhkan sangat sederhana, yakni hanya sebuah smartphone dan kejelian melihat momen dan hal-hal unik.

Stories sendiri memang mampu memberikan sensasi kedekatan yang lebih real-time dan personal bagi yang menyaksikannya. Bagi brand, strategi ini dinilai dapat memunculkan kesan dan pendekatan yang lebih intim dengan pelanggan sehingga mereka tidak segan untuk me-mention akun brand yang bersangkutan dan menginspirasi pelanggan lain untuk berinteraksi. 

Pendekatan humanis seperti itu dinilai lebih mudah mengundang engagement. Namun, jika pertanyaan-pertanyaan pelanggan membludak, brand Anda mungkin sudah harus melirik teknologi chatbot yang mampu merespons mereka dengan cepat.  

Shutterstock

Social Listening

Istilah ini mungkin belum terlalu akrab di telinga umum. Secara sederhana, social listening adalah aktivitas penelusuran melalui web dan media sosial untuk menemukan pelanggan yang menulis kata kunci suatu brand atau industri tertentu. Tentunya yang ditelusuri adalah pelanggan yang potensial menjadi leads. 

Misalnya seperti ilustrasi di bawah ini. Ada sejumlah pengguna yang meminta solusi secara random terkait search engine optimization (SEO).

Melansir Social Media Today, strategi ini diperkirakan akan makin banyak digunakan pada 2019 sebagai layanan pelanggan yang bertujuan untuk meningkatkan reputasi brand. Jika demikian, marketers akan dengan mudah mencari pelanggan yang membutuhkan produk atau layanan yang mereka tawarkan secara spesifik.

Source: Social Media Today

Aplikasi Pesan Singkat

Berdasarkan Laporan Tren Internet Mary Meeker 2018, total pengguna media sosial berbasis pesan singkat seperti Facebook Messenger, WhatsApp, WeChat, Instagram, dan Twitter jika digabung sudah mencapai angka lima miliar. Sementara itu, hasil Laporan Berita Digital Institut Reuters 2018 menyebutkan bahwa setengah dari remaja menghabiskan waktu selama 3 jam dalam sehari dengan aplikasi-aplikasi media sosial tersebut.

Marketers tentu melihat hasil laporan tersebut sebagai peluang untuk menggencarkan campaign. Namun, berkomunikasi secara one-on-one kepada pelanggan sebagaimana dapat dilakukan melalui aplikasi pesan singkat perlu dilakukan dengan hati-hati.

Penting untuk disadari bahwa privasi pelanggan tetap diutamakan. Karena itu perlu dihindari pesan-pesan yang tidak diinginkan—khususnya bagi brand yang menggunakan otomasi seperti chatbot.

Branding melalui pesan singkat bisa dilakukan dengan cara membuat stickers untuk WhatsApp yang bisa diunduh secara gratis oleh pelanggan. Bisa juga brand tersebut memberi layanan instant messaging ketika pelanggannya membutuhkan sesuatu dari produk atau jasa yang ditawarkan.

Layanan pemesanan Domino’s Pizza pada aplikasi Facebook Messenger/Pinterest

CEO ‘Sosial’

Jagat media sosial di tahun ini cukup diguncang dengan isu hoaks dan pelanggaran privasi berupa pencurian data pribadi untuk kepentingan politik. Kedua masalah itu mempengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap brand, media massa, dan bahkan media sosial itu sendiri.

Di tengah situasi seperti itu, penting bagi seorang CEO atau pimpinan perusahaan untuk tampil ke permukaan dan ‘bersosial’. Menurut Social Report, cara seperti ini dapat meningkatkan reputasi perusahaan, membangun kepercayaan terhadap pelanggan dan users, dan membuat para pencari kerja tertarik bekerja di perusahaan Anda.

Berdasarkan data Oktopost pada 2016, hanya 40% pimpinan perusahaan yang aktif di media sosial. Sebagian besar (70%) dari angka itu pun hanya menggunakan LinkedIn. 

CEO itu tidak mesti live Instagram setiap hari, tetapi bisa menulis di blog perusahaan, mencuitkan pikiran di Twitter dengan akun pribadinya, atau menulis blog di LinkedIn dan membagikannya ke berbagai platform media sosial. Khalayak umum ingin mendengarkannya langsung dari Anda.

Shutterstock

Kesimpulan

Tren marketing terus berubah dari tahun ke tahun. Beberapa tren tersebut ada yang bertahan lama dan mempengaruhi industri, tetapi ada pula yang hanya menjadi euforia sesaat dan terhempas tren berikutnya.

Media sosial, dengan total pengguna yang mencapai lima miliar, tentu memberikan peluang yang sangat signifikan bagi marketers. Pengguna media sosial hari ini pun tidak lagi dominan hanya ke satu platform tertentu saja. 

Leads Anda di Facebook tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang di Instagram, LinkedIn, Youtube, begitu pula seterusnya. Penting bagi marketers untuk memiliki mindset multiplatform. Dengan begitu, Anda akan mengetahui konten seperti apa yang relevan untuk masing-masing platform.