Source: Shutterstock
November 30, 2018

Menjadi DIY Traveler di Era Digitalisasi

By : Bizinsight

Beberapa waktu lalu, jika ingin berlibur atau tugas kantor ke luar kota Anda mesti mencari agen travel terdekat untuk memesan tiket transportasi. Itu pun belum tentu mendapat tiket keberangkatan pada hari yang sama.

Tetapi hari ini, teknologi makin memanjakan Anda dengan penawaran all in mulai dari tiket pulang-pergi, paket penginapan, reservasi restoran, hingga rekomendasi spot-spot unik yang menarik untuk dikunjungi. Semua kebutuhan itu bahkan sudah tersedia dalam satu platform yang ditawarkan sejumlah perusahaan travelling digital.

Ya, digital memang menjadi kata kunci. Digitalisasi dalam dunia bisnis travelling membuat Anda menjadi seorang DIY (do it yourself) traveler—istilah yang sering digunakan karena begitu mudahnya seseorang mengatur sendiri rencana travelling-nya.

Sesampainya di tempat tujuan, Anda tidak perlu lagi sibuk mencari transportasi yang akan mengantar Anda ke hotel. Dari keluar bandara hingga tiba di hotel, semuanya sudah dapat terencana rapih jauh-jauh hari.

Interkoneksi antara perusahaan travel online dengan hotel, transportasi, restoran, serta berbagai kebutuhan travelling lainnya merupakan terobosan yang mengubah bisnis tourism secara revolusioner pada hari iniDitambah lagi derasnya arus informasi yang tak terbendung membuat orang-orang memiliki ide-ide gila dalam travelling.

Di luar sana, sejumlah perusahaan travel raksasa bahkan berani menawarkan paket travelling ke tempat-tempat ekstrem seperti ke Kutub Utara atau bahkan luar angkasa—seperti yang ditawarkan perusahaan pesawat luar angkasa komersil asal Inggris Virgin Galactic, terlepas dari kontroversi di dalamnya.

Namun, yang terpenting adalah pelaku bisnis mesti merespons disrupsi teknologi ini dengan inovasi digital. Jika diamati, di dalam negeri, pemain besar bisnis travel online seperti Tiket.com dan Traveloka berlomba memberikan penawaran yang menggiurkan seperti promo tiket murah, diskon, voucher dinner, hingga kuis dengan hadiah terbang gratis.

Jika Anda pecinta travelling atau backpacker, penawaran seperti itu tentu akan semakin mendorong Anda untuk tidak pikir panjang dan langsung booking ticket. Terlebih bila Anda sudah cukup lama tidak menghirup udara fresh pedesaan atau menikmati sunrise di puncak gunung dengan pemandangan di atas awan.

Pemandangan sunset di Danau Toba, Sumatera Utara. Source: Shutterstock

Pemandangan sunset di Danau Toba, Sumatera Utara. Source: Shutterstock

Sementara itu, bagi Anda yang baru jadi newlywed (pengantin baru), paket berlibur domestik maupun mancanegara yang ditawarkan online travel agency tentu sangat menggiurkan untuk dicoba. Sejumlah rekomendasi tempat wisata pun bisa segera Anda dapatkan. Itu bisa sangat membantu dan memudahkan Anda dan pasangan dalam merencanakan bulan madu.

Perusahaan travel seperti Airbnb yang hadir dengan konsep “menginap di rumah orang asing” juga menambah referensi dalam gaya berlibur. Pasangan baru yang ingin berbulan madu dengan suasana homey dan private mungkin akan lebih cocok dengan konsep yang ditawarkan perusahaan asal California ini.

Mengutip The Guardian, ide Airbnb sebenarnya bukan barang baru. Konsep menginap di rumah-rumah orang asing telah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Hanya saja kini teknologi mampu membuatnya menjadi terakselerasi dan mudah diakses hingga menjadi layanan yang digunakan secara global saat ini.

Jika belum terlalu yakin dengan fasilitasnya, apakah rumah yang ditawarkan akan sesuai dengan ekspektasi sehingga memberi kenyamanan, Anda bisa dengan mudah mencari review atau testimoni pelanggan lain mengenai penawaran tersebut. Semuanya serba ada dalam dunia digital.

Ekspektasi Pelanggan

Dari sisi bisnis, perusahaan travel hari ini tidak hanya berhadapan dengan terobosan ide dan konsep inovatif yang terus dimunculkan oleh sesama kompetitor. Pada saat yang bersamaan, berbagai terobosan itu pada akhirnya membuat ekspektasi dan keinginan pelanggan pun terus meningkat.

Travelling, bagi sebagian adalah hobi, atau bagi sebagian lainnya merupakan passion. Namun tentu para penjalajah itu memiliki preferensi personal ataupun kecenderungan favorit. Perusahaan travel mesti makin advanced dalam menawarkan layanan personalisasi berdasarkan profil atau riwayat perjalanan sebelumnya.

World Economic Forum mencatat, industri travel dan pariwisata menargetkan jumlah penumpang transportasi udara pada tahun 2036 sebesar 7,8 miliar orang. Sementara badan PBB Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) memprediksi jumlah kunjungan asing pada 2020 nanti akan mencapai 1,4 miliar orang dan 1,8 miliar orang pada 2030.

Indonesia sebagai negeri kepulauan dengan pantai-pantainya yang indah nan jernih serta gunung-gunung yang menjulang sebagai pasak bumi memiliki potensi menjadi primadona target wisata alam dunia. Lalu tinggal bagaimana para pelaku bisnis ini mampu menyesuaikan diri dengan permintaan pelanggan yang kini menginginkan layanan cepat, personal, mulus, dan tentunya aman untuk menjelajahi bumi pertiwi.

[Image Source: Shutterstock]