Ilustrasi pengguna smartphone mengakses konten video online
Oktober 19, 2018

Tren Video Online dan Pergeseran Perilaku Menonton di Masyarakat

By : Bizinsight

Konten video online tak dipungkiri lagi tengah menjadi tren yang digandrungi masa kini. Tua dan muda bisa nongkrong seharian memantengi layar hanya untuk memutar video-video favorit mereka. Barangkali, tontonan yang dicari tak kunjung muncul di saluran televisi (TV) lokal.

Perkembangannya pun semakin terakselerasi dengan tumbuh suburnya gadget berfitur canggih. Seakan-akan, hiburan visual itu menyusut ke dalam tas atau bahkan saku kita.

Ketika terjebak macet menuju kantor misalnya, tinggal keluarkan smartphone dari saku lalu pilih channel YouTube pilihan. Bisa streaming berita soal tren bisnis terkini yang mungkin akan bermanfaat untuk memunculkan gagasan fresh ketika rapat dengan bos. Mudah dan praktis. Demikianlah teknologi, makin berkembang makin memudahkan pekerjaan manusia.

Faktor kemudahan itu pula yang ditenggarai menjadi faktor pergeseran perilaku menonton masyarakat dari TV ke konten video berbasis internet yang juga biasa disebut video on demand (VOD). Jika kita amati ke lingkungan sekitar, baik senior (baca: orang tua) maupun anak-anak kini makin fasih mengakses video online. Si kecil biasanya asyik dengan tutorial membuat slime, yang masih sekolah mungkin sibuk mempelajari bahasa baru, sementara yang senior lebih memilih video yang bersifat informatif.

Ya, konten video online saat ini terasa makin memadati aktivitas sehari-hari kita.

TV vs VOD

Tahun lalu, lembaga riset Nielsen membuat riset mengenai perkembangan tersebut. Survei yang dilakukan di 11 kota besar di Indonesia itu bertujuan untuk mengukur tren penggunaan media visual di tengah masyarakat.

Secara umum, hasıl survei itu menunjukkan bahwa pengguna TV konvensional masih lebih dominan dibanding pengguna media-media visual lainya. Persentasenya yakni pengguna TV 96%, diikuti media visual di ruang-ruang publik 53%, internet 44%, radio 37%, koran 7%, serta tabloid dan majalah 3%. Namun, meledaknya revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), realitas virtual (virtual reality), dan berbagai kecanggihan yang kini tersedia dalam fitur gadget nampaknya akan menjadi penantang terkuat hegemoni incumbent (baca: TV).

Data di atas memang menyimpulkan bahwa TV konvensional belum ditinggalkan. Hanya saja, dengan maraknya konten video online yang dapat diakses dengan mudah menggunakan internet, membuat pengguna memilki preferensi atau pilihan lebih luas dalam aktivitas menonton mereka.

Data lainnya dalam penelitian Nielsen juga menemukan bahwa khusus dalam aktivitas menonton video dan konten film, akses ke TV terestrial dan TV kabel masih menjadi pilihan utama dengan angka 77%, disusul 51% dari platform bebas akses seperti Youtube, Vimeo, dan sejenisnya. Sementara itu, 28% responden memilih berlangganan konten video berbayar seperti Iflix dan HOOQ. Di Amerika Serikat sendiri, masyarakat yang telah berlangganan konten berbayar cenderung lebih sedikit menonton TV. (Nielsen 2016)

DailySocial, dalam surveinya pada 2017, secara spesifik juga mengamati tren ini. Ada 1.037 responden yang dipilih sebagai sampel survei untuk mengetahui aktivitas mereka dalam konten video online baik yang gratis maupun berbayar.

Dari survei itu diperoleh hasil bahwa sebanyak 48,30% responden mengaku berlangganan layanan VOD berbayar dari provider HOOQ. Sementara yang lain mengaku berlangganan dari penyedia layanan VOD seperti VIU (25,02%), iflix (24,35%), Google Play (21,05%), iTunes (11,83%), Viki (7,27%), Tribe (6,60%), dan Catchplay (4,85%). Sementara 23 persen sisanya mengaku tidak menggunakan layanan VOD di atas.

Untuk layanan video yang dapat diakses secara gratis (free-to-access), YouTube masih menjadi pilihan favorit dengan persentase sebesar 91,85%, lalu diikuti Vidio (25,22%), MeTube.id (18,33%), MMIVO (17,17%). Di posisi terakhir ada Vimeo dengan persentase sebesar 14,26%.

Sementara itu smartphone menjadi medium yang paling banyak digunakan untuk menonton VOD. Hal ini dikarenakan faktor praktis dan kemudahannya.

Mengapa Konsumen Mulai Beralih ke VOD?

Apa yang tidak tersedia dari TV terrestrial adalah kontrol dan kenyamanan dalam memilih waktu menonton. Munculnya layanan VOD memberikan penonton pilihan atas konten apa yang ingin disaksikan, kapan, dan bagaimana cara menontonnya. Mereka bisa download dan streaming konten yang sesuai dengan preferensi. Tak lagi mesti menunggu berjam-jam di depan TV demi menonton film yang sudah ramai jadi perbincangan jagad maya.

Bahkan mereka juga bisa menyaksikan beberapa episode film serial dalam sekali waktu. Ditambah lagi kemudahan kontrol untuk mem-pause agar dapat membuat mie dan es teh manis, pergi ke toilet, dan kontrol lainnya yang tidak akan berfungsi jika diperintah ke TV konvensional.

Menurut Presiden Nielsen Megan Clarke, sensasi “menonton sesuka hati” seperti ini lah yang memembuat penonton memiliki standar yang tidak lagi sama dalam menyaksikan sebuah tayangan.

“Konten akan selalu menjadi faktor utama dan konsumen akan semakin menginginkan kendali atas remote-nya dan kesesuaian (customization) dalam aktivitas menonton mereka. Penyedia layanan yang mampu menyajikan kedua hal ini (yang) akan mendapat keuntungan.”

Potensi 2019

Tren VOD mungkin sedang memasuki masa pubernya. Perkembangannya melesat di masa industri digital yang mengalami ledakan inovasi. “Content is king,” kata mereka yang bergerak di industri ini. Karena itu pula para pekerja kreatif pun mesti berkompetisi memproduksi konten yang bisa menarik hati penonton yang kini memiliki bercabang pilihan itu.

Jika dilihat dari angka-angka di atas, industri ini seperti belum mencapai titik klimaks sehingga menyisakan ruang bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya untuk mengeksplorasi lebih jauh. Lembaga analisis Zenith bahkan memprediksikan, dalam beberapa tahun ke depan orang-orang bakal menghabiskan lebih banyak waktu dalam berselancar internet ketimbang menonton TV.

Kira-kira dalam sehari orang-orang bisa menghabiskan waktu rata-rata 170,6 menit dengan internet dan 84 menit untuk menonton video. Sementara durasi menonton TV berkurang menjadi 170,3 menit. Smartphone lagi-lagi diperkirakan akan menjadi medium paling banyak digunakan untuk konsumsi video ke depannya.

Momen Khusus

Sebagai salah satu penyedia jasa layanan internet, Telkomsel juga mencatat tren yang bergerak di pelanggannya. Volume data akses video online di tahun ini melesat pesat dari tahun sebelumnya. Grafiknya pun terus meningkat dengan puncaknya yang terjadi pada bulan Ramadhan, yakni Mei hingga Juni 2018.

Di bulan yang semarak dengan nuansa kebaikan itu, masyarakat banyak menghabiskan waktu dengan internet, misalnya untuk belanja makanan berbuka, beli tiket mudik, atau mencari tahu ilmu agama dan menonton kajian Islam. Tercatat akses ke YouTube pada Ramadhan tahun ini meningkat 42% dari 2017 lalu.

Kontes Piala Dunia 2018 di Rusia tentu menjadi ajang menonton bersama. Pada pekan pertama (18 – 25 Juni) saja sudah 840 TB dihabiskan untuk streaming pertandingan menggunakan layanan Telkomsel MAXstream. Aktivitas ini ternyata menyedot 1,55% dari total volume data Telkomsel.

Pada momen Asian Games, khususnya ketika pertandingan Timnas Indonesia melawan Uni Emirat Arab (24 Agustus 2018), volume data yang digunakan melalui platform Vidio meningkat 8,84 kali dibanding hari normal.

Sebanyak 0,9 juta pelanggan Telkomsel merupakan pengguna aktif dari platform VOD berbayar seperti HOOQ, Viu, Netflix, dan MAXstream, dengan volume data rata-rata sebesar 1,2 GB dalam sebulan.

Sementara 25 juta lainnya merupakan pengguna aktif free-access-video dari YouTube, Tiktok, Vido, dan Musically. Rata-rata volume data yang dihabiskan dalam sebulan untuk aktivitas ini mencapai 8,9 GB. Namun, akses video pada kategori ini mengalami peningkatan yang relatif lebih rendah dibanding konten berbayar setiap bulannya.

Image source: Pexels.com
Infographic: Rizky Prima