Pasar Digital Advertising Indonesia adalah yang Tumbuh Paling Cepat di 2019/Shutterstock
Februari 15, 2019

Di 2019, Indonesia Berpotensi Puncaki Pertumbuhan Pasar Digital Advertising

By : Bizinsight

Pasar digital advertising Indonesia 2019 diprediksi akan tumbuh pesat menurut 2019 Global Digital Ad Trends Report dari PubMatic. Diperkirakan, belanja iklan digital Indonesia akan mencapai $2,6 miliar (sekitar Rp36,5 triliun) pada tahun ini atau meningkat 26 persen dibanding tahun lalu. Ini adalah angka pertumbuhan tertinggi, mengalahkan negara-negara Eropa seperti Rusia, Irlandia, Swedia, Prancis, Belanda, Italia, dan Swedia.

Total belanja iklan digital Indonesia di 2019 sebenarnya masih kecil bila dibandingkan dengan Amerika dan China dalam laporan PubMatic ini. Kedua negara tersebut adalah satu-satunya pasar dengan pengeluaran iklan digital lebih dari $10 miliar yang diproyeksikan akan tumbuh pada tingkat dua digit di tahun 2019. Namun, dari sisi persentase pertumbuhan YoY, mereka masih kalah dengan negara berkembang seperti Indonesia dan India.

Bila dilihat dari % YoY change, Indonesia berada di posisi puncak dengan persentase pertumbuhan mencapai 26 persen. Sementara di peringkat kedua ada India (20%), diikuti oleh Rusia (19%), Thailand (15%), dan Meksiko (15%) yang kelimanya berada di posisi lima teratas, termasuk Indonesia.

Tumbuh suburnya pasar digital advertising Indonesia ini dapat terjadi karena didorong oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah peningkatan pengguna internet yang kini telah melebihi setengah dari total populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 265,4 jiwa. Di samping itu, perkembangan fitur beriklan di media sosial dan tren belanja online juga ikut mendorong pebisnis untuk mengkampanyekan brand dan promosi ke ranah digital.

PubMatic pun mencatat total belanja iklan digital secara global di 2019 diproyeksikan dapat mencapai $327,28 miliar (sekitar Rp4.601 triliun), tumbuh hingga 48,5 persen. Pun di tahun berikutnya yang diprediksi angkanya dapat mencapai $380,40 miliar (sekitar Rp5.346 triliun), atau tumbuh hingga 54,5 persen. Artinya, jika merujuk pada data ini, sampai 2020 sebagian besar belanja iklan akan dikeluarkan untuk periklanan digital dan menggeser perlahan tren iklan konvensional atau tradisional.

Programmatic Ads di Pasar Digital Advertising Indonesia

Programmatic Ads menjadi salah satu metode atau interaksi yang membedakan antara periklanan digital dengan konvensional. Dalam programmatic ads hampir semua transaksi dapat dituntaskan secara automasi dalam satu platform. Mulai memilih produk jasa, konsultasi melalui chatbot, hingga ke proses pembayaran.

Jika diamati, sebenarnya hampir setiap advertising agency saat ini sudah mengadopsi sistem programmatic guna memberi kenyamanan dan efisiensi dalam bertransaksi. Menurut PubMatic, tren ini pun akan bergerak positif di 2019. Dari total pengeluaran belanja iklan digital secara global, dua pertiganya akan dibelanjakan untuk programmatic advertising.

Di pasar digital advertising Indonesia, tren programmatic ads pun sejalan dengan tren global. Programmatic ads di Indonesia diprediksi oleh PubMatic akan mengalami peningkatan pesat di tahun 2019 ini. Diperkirakan, total belanja untuk programmatic ads di Indonesia akan meningkat sebesar 89 persen, mencapai sekitar $500 juta (sekitar Rp7 triliun) untuk tahun ini.

Dengan pertumbuhan tersebut, pasar programmatic ads Indonesia pun menjadi yang tumbuh paling cepat pada tahun 2019 ini bersama dengan India (47%) dan Brazil (45%). Angka pertumbuhan ini pun jauh melampaui negara-negara Eropa seperti Prancis (26%), Jerman (19%), dan Italia (19%). Meski begitu, dari segi besaran nilai yang dibelanjakan, Indonesia masih berada di bawah negara-negara tersebut.

Mobile Ads di Pasar Digital Advertising Indonesia

Teknologi mobile yang kini hampir menjadi tren teknologi secara umum juga ikut mendorong tumbuh suburnya belanja mobile ads di seluruh dunia. PubMatic memperkirakan total belanja mobile ads di tahun ini akan melebihi $200 miliar (sekitar $2.811 triliun). Tingkat pertumbuhan di sektor ini pun disebut PubMatic akan tetap berada di wilayah dua digit hingga 2022.

Sama halnya dengan programmatic ads, sektor mobile ads di pasar digital advertising Indonesia kembali menjadi yang tumbuh paling cepat di tahun 2019. Nilai pertumbuhan mobile ads Indonesia dari 2018 ke 2019 diprediksi PubMatic dapat mencapai 34 persen.

Baca Juga: Mengapa Anda Perlu Memperhatikan Mobile Advertising Indonesia?

Persentase ini sebenarnya sejajar dengan Rusia, tetapi untuk besaran nilai yang dibelanjakan, Indonesia masih lebih unggul dibanding Negara Beruang Merah itu. Total belanja mobile ads Indonesia diproyeksikan PubMatic bisa mencapai $1.500 juta (sekitar Rp21 triliun).

In-app purchase, atau pembelian/transaksi di dalam aplikasi, bisa dibilang sebagai salah satu pendorong utama angka peningkatan belanja mobile ads ini. Toh mau bagaimanapun juga, adopsi internet seluler di kalangan konsumen memang didorong oleh aplikasi. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu di sana dibandingkan melalui mobile web.

Pada triwulan kedua tahun lalu saja pengguna perangkat mobile yang mengunduh aplikasi digital di seluruh dunia hampir mendekati 30 juta. Sehingga, memajang promosi atau berkampanye melalui aplikasi pun kini menjadi tren dalam periklanan digital. Maka tidak heran jika saat ini hampir semua aplikasi menyediakan ruang untuk beriklan.

Aplikasi ROLi dan Mobile Ads

ROLi, aplikasi gaya hidup digital yang didesain oleh Telkomsel ini dapat menjadi contoh. Aplikasi untuk pengguna ponsel Android ini dapat memfasilitasi pengiklan atau merek untuk mempromosikan produknya ke para pelanggan Telkomsel yang tersebar di Tanah Air. Tercatat, sekitar 1.800.000 pelanggan Telkomsel telah mengunduh ROLi ke perangkat mobile mereka.

Aplikasi ROLi juga cukup unik karena memberi banyak keuntungan bagi penggunanya seperti kuota data, paket SMS, dan paket menelepon. Hadiah seperti kuota data sebesar 300MB setiap bulan pun bisa didapatkan secara cuma-cuma oleh pengguna ROLi. Syaratnya, mereka hanya perlu mengaktifkan fitur lock screen ROLi selama 30 hari tanpa putus di perangkatnya.

Baca Juga: Menjalin Hubungan Jangka Panjang dengan Pelanggan Bersama OPT-IN Telkomsel

Nah, di lock screen inilah konten yang dipromosikan oleh pengiklan dan brand akan muncul. Hal ini sangat berpotensi untuk meningkatkan brand awareness di pasar. Di samping itu masih ada banyak ruang beriklan yang dapat dimanfaatkan oleh pengiklan di ROLi. Seperti survei, in-app display banner, atau melalui video di menu watch ads.

Memberikan pengalaman unik dan inovatif semacam ini menjadi keunggulan yang dirasakan bagi pengguna perangkat mobile. Maka sangat wajar jika tren periklanan saat ini semakin mengarah ke digitalisasi, khususnya mobile.

Video Ads

Selain itu, tren yang kian populer di semua kalangan saat ini adalah video. Jika diamati, saat ini banyak orang begitu senang memproduksi dan menyaksikan video.

Kalkulasi yang dilakukan PubMatic, video menjadi faktor pendorong utama dalam pertumbuhan angka belanja iklan digital. Diprediksi, peningkatan di ranah ini dapat mencapai lebih dari 70 persen hanya dalam kurun waktu empat tahun (2018-2022).

Ditinjau dari metode transaksinya, belanja untuk programmatic video ads secara global diperkirakan meningkat 7,4 persen dari tahun lalu, yakni dari 54,6 persen menjadi 62 persen di 2019. Sementara non-programmatic mengalami penurunan dari 45,4 persen menjadi 38 persen dalam rentang waktu yang sama.

Baca Juga: Tren Video Online dan Pergeseran Perilaku Menonton di Masyarakat

Dari semua klasifikasi di atas, pengeluaran belanja programmatic video ads di Indonesia diprediksi bakal jadi yang tertinggi di 2019. Persentasenya mencapai dua kali lipat dari tahun lalu, yakni 105 persen.

Video memang tidak dapat dipungkiri menjadi tren yang sangat gandrung di masyarakat. Di Indonesia, dalam rentang waktu kurang dari setahun (Januari – September 2018), konsumsi konten video dari seluruh pelanggan Telkomsel saja mengalami peningkatan sebesar 67 persen atau setara 73 petabyte. Jika dikonversi, ini sama saja dengan memutar video berkualitas high definition (HD) selama 8.618 tahun.

Pada 2020 nanti, konsumsi video dari jutaan pelanggan Telkomsel diprediksi bisa mencapai lebih dari 120 petabyte. Tren ini menunjukkan bahwa video akan menjadi media untuk beriklan yang sangat potensial bagi bisnis.

Baca Juga: Top 10 Ide Video Marketing untuk Startup dan Bisnis Anda

Jika membaca tren dan angka-angka di atas, pelaku bisnis nampaknya akan sangat bergairah untuk mengalokasikan budget besarnya ke periklanan digital. Penting bagi pengiklan maupun publisher untuk membaca data tren dalam periklanan digital yang dapat memberi dampak dan pengaruh signifikan bagi pasar.

Sebagaimana dunia digital dipenuhi dengan aspek pengolahan data, maka begitu pula dengan industrinya. Data bersifat fundamental untuk menentukan berbagai keputusan bisnis.

*Berikut ini infografis mengenai tren pasar digital advertising Indonesia di 2019