Myth in digital advertising for FMCG Industries/Pixabay by ccpeggy
Berita Oktober 25, 2019

M.Y.T.H Pemasaran Digital dalam Industri FMCG

By : Bizinsight

FMCG atau Fast Moving Consumer Goods adalah serangkaian produk yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat dan terjual dengan cepat. Industri ini juga telah lama menjadi pusat kampanye iklan di dunia pertelevisian. Namun, bila Anda memperhatikan, industri ini masih jarang terlihat di dunia digital. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Dalam acara MMA Impact Indonesia 2019 yang digelar di Jakarta, Global Marketing Director Mayora Ricky Afrianto memaparkan empat poin yang menjadi perhatiannya. Ke-4 point tersebut adalah Mental Stage, Youth, Time, dan Hyperactivity yang disingkat menjadi MYTH. Ricky juga tidak menampik bahwa iklan televisi masih menjadi kontributor pemasaran terbesar bagi industri tempatnya bermain.

Lalu, apa itu MYTH dan mengapa Ricky memberikan perhatian khusus di sini?

MYTH iklan digital di industri FMCG

Mental Stage

Di poin ini Ricky menjelaskan tentang perbedaan tahap mental ketika sedang mengkonsumsi tayangan televisi dan konten digital. Ricky menjelaskan bahwa ketika seseorang sedang menonton televisi, dirinya sudah siap untuk dihibur. Maka dari itu, ketika ada iklan yang tayang, biasanya mereka tidak keberatan.

Berbeda dengan televisi, iklan digital sendiri memang masih punya banyak tantangan. Salah satunya adalah layanan pemblokiran iklan yang membuat iklan tidak dapat tampil ke konsumen. Selain itu, Ricky juga menjelaskan bahwa biasanya orang-orang yang sedang mengkonsumsi konten digital sudah memiliki tujuan khusus. Sehingga, mereka memiliki kecenderungan untuk tidak mau diganggu, termasuk oleh iklan.

Youth

Ricky menjelaskan bahwa pasar selalu berubah dan kini tantangannya menjadi lebih berat lagi untuk menjangkau pasar karena lahirnya generasi Z. Ketika generasi milenial hadir, Ricky tahu bahwa televisi masih efektif sebagai media pemasaran untuk FMCG. Namun, hal ini tidak dapat bekerja dengan generasi Z yang lebih dekat dengan digital.

Ricky menjelaskan bahwa konsumsi televisi mulai menurun. Sementara di sisi lain, belum ada strategi pemasaran digital yang terbukti efektif untuk FMCG. Selain itu, generasi muda saat ini juga punya banyak problematikanya sendiri, salah satunya adalah cepat bosan.

Time

Poin ketiga tentang waktu utama atau Prime Time. Menurut Ricky, prime time di digital dan televisi memiliki perbedaan yang kontras. Ricky menjelaskan bahwa prime time di televisi itu bisa ditentukan dari jenis program atau tayangannya. Sehingga membuat pengiklan dapat lebih mudah untuk menentukan produk mana yang perlu diiklankan karena targetnya jelas.

Sementara di digital, hal ini menjadi lebih kompleks. Menurut Ricky, prime time di digital itu ditentukan oleh masing-masing individu. Sehingga membutuhkan strategi pendekatan yang berbeda-beda untuk masing-masing individu.

Hyperactivity

Poin terakhir yang dipaparkan adalah tentang Hyperactivity. Di sini, Ricky menjelaskan bahwa terdapat perbedaan intensitas aktivitas yang dilakukan oleh pengguna digital dan pemirsa televisi. Umumnya, pengguna televisi hanya memindah-mindahkan saluran saja sehingga membuat mereka lebih fokus pada konten program. 

Sementara pengguna digital,  di saat yang bersamaan bisa mendengarkan musik sambil berselancar di media sosial. Hal ini mengakibatkan semakin pendeknya fokus seseorang terhadap sebuah konten.

Menghadapi tantangan bersama-sama

Apa yang dipaparkan Ricky di gelaran MMA Impact Indonesia tidak salah. Kampanye iklan FMCG pada umumnya memang lebih fokus pada target yang besar sehingga membuat TV menjadi primadona mereka. Pun begitu, bukan berarti digital tak punya peran sama sekali.

Memang saat ini belum ada satu kampanye iklan digital FMCG yang bisa dengan mudah diingat orang. Apalagi jika ada yang bertanya, kampanye produk FMCG apa yang Anda ingat di ranah digital? Pasti Anda akan membutuhkan waktu untuk menjawab hal tersebut.

Meski faktanya berkata demikian, bukan berarti tak ada harapan sama sekali bagi industri FMCG di dunia digital. Hal pertama yang harus diubah adalah cara berkomunikasi dengan konsumen. Contohnya bisa dilihat dari kampanye Coca-cola yang bekerja sama dengan Shazam untuk menarik konsumen milenial.

Di samping itu, para pemain FMCG juga tidak boleh takut untuk berinovasi dan gagal di era digital ini. Jika inovasi tersebut berhasil, ada data yang bisa dikumpulkan dan dipelajari untuk menjadi wawasan dalam mengambil keputusan berikutnya. Demikian pula sebaliknya, jika inovasi pemasaran tersebut gagal, ada data yang bisa dipelajari untuk mengevaluasi kampanye agar menjadi lebih baik.

Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan wawasan berbasis data adalah melalui kerja sama dengan berbagai pihak, terutama yang memiliki pengalaman di bidang telekomunikasi dan teknologi seperti Telkomsel. Sebagai operator seluler terkemuka, Telkomsel sendiri telah mengoptimalkan teknologi sejak 2014 untuk dapat menghasilkan insight/wawasan mengenai perilaku konsumen secara kolektif sehingga brand mampu memberikan penawaran yang sesuai kepada konsumen.

Informasi ini lah yang dapat dimaksimalkan oleh pemasar melalui layanan Telkomsel DigiAds. Sebagai bagian dari keluarga besar Telkomsel, DigiAds dapat menghubungkan Anda ke lebih dari 160 juta pelanggan Telkomsel di seluruh Indonesia sesuai dengan kebutuhan.

Hubungi kami melalui email di digitalads@telkomsel.co.id bila Anda tertarik untuk bekerja sama dengan kami dan mengetahui lebih jauh tentang teknologi untuk menghasilkan cara pemasaran yang lebih efektif. Ikuti media sosial kami di Instagram dan LinkedIn untuk mengetahui lebih banyak tentang insight dan juga aktivitas terbaru kami.