Mei 18, 2019

4 Tips Strategi Marketing Untuk Bisnis Pariwisata Online

By : Bizinsight

Pariwisata online di Indonesia adalah salah satu industri yang masih menyimpan potensi besar. Pasalnya, sektor pariwisata sendiri menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Tahun 2018 lalu, pendapatan negara dari sektor ini mencapai lebih dari angka US$16 miliar atau sekitar 231,8 triliun dalam rupiah.

Tentu hal ini juga didorong oleh peningkatan tren Online Travel Agency (OTA) yang kini banyak digunakan pelanggan guna memenuhi berbagai kebutuhan berwisata. Dalam sebuah laporan dari hasil survei DailySocial pada 2018 lalu, sebanyak 71% responden mengaku melakukan reservasi penginapan melalui sejumlah perusahaan OTA seperti Traveloka dan Tiket.com.

Besarnya permintaan masyarakat membuat persaingan bisnis jasa reservasi daring ini menjadi sangat kompetitif. Pekerjaan besar untuk memenangkan persaingan itu terletak pada strategi pesamaran digital yang efektif dan inovatif. Melalui artikel ini, Bizinsight akan memberi sejumlah tips strategi pemasaran digital untuk bisnis OTA.

1. Bangun interaksi bermakna dengan pelanggan

Media sosial (medsos) tidak diragukan lagi menjadi senjata yang sangat strategis untuk kampanye pemasaran digital. Platform berbasis visual seperti Instagram, Pinterests, ataupun Facebook bisa menjadi inspirasi bagi para pengguna untuk menentukan tujuan berlibur.

Hootsuite mencatat, di Indonesia sendiri penetrasi ke medsos per Januari 2019 mencapai 150 juta pengguna aktif. Ini adalah prospek menjanjikan bagi kalangan bisnis yang memiliki core bisnis di dunia digital. Karena itu, sangat penting bagi OTA untuk menjadikan medsos sebagai salah satu saluran utama pemasaran.

Untuk membangun sebuah interaksi yang berarti dengan pengguna medsos, ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Misalnya dengan bertanya dan polling melalui IG Stories atau merespon pertanyaan pengguna dengan bahasa yang fleksibel. Bisa juga dengan menawarkan konten atau rekomendasi khusus mengenai tempat-tempat menginap yang sedang menawarkan promo.

Merespons satu per satu pertanyaan pengguna tampaknya bukan tugas pemasaran yang penting. Namun, dari sisi pengguna, pendekatan seperti ini adalah sesuatu yang membuat mereka merasa dihargai secara khusus. Terlebih lagi jika mereka sedang berada dalam kebingungan dalam memilih tujuan berlibur.

Setiap interaksi adalah peluang untuk menjadikan visitor (pengunjung) menjadi customer (pelanggan). Jika mereka dilayani selayaknya tamu yang dirindukan, perlakuan seperti inilah yang bisa membuat pelanggan menjadi loyal.

2. Micro-Moment

Seseorang tidak tiba-tiba saja memutuskan berlibur ke suatu tempat wisata. Biasanya, dia akan menghabiskan waktu dan kuotanya untuk riset terlebih dahulu. Mulai dari mencari referensi tempat menginap seperti hotel atau komparasi harga yang sesuai dengan anggaran berliburnya.

Menyadari tahapan-tahapan ini bisa sangat berguna untuk strategi pemasaran. Google merinci tahapan-tahapan yang disebut dengan micro-moments ini ke dalam empat bagian:

a. Membayangkan (dreaming)

Ini adalah tahapan ketika seseorang membayangkan tempat-tempat indah dan menarik yang ingin dikunjungi. Namun, dia belum memiliki tujuan spesifik. Biasanya orang-orang yang masih ada dalam tahapan ini akan sangat terbuka dengan semua kemungkinan dan membutuhkan inspirasi berlibur.

b. Merencanakan (planning)

Setelah menemukan destinasi wisata, hal selanjutnya adalah merencanakan berbagai kebutuhan. Mulai dari hotel, tanggal keberangkatan dan kepulangan yang tepat, promo tiket, hingga rangkaian kegiatan yang bisa dilakukan selama berlibur.

c. Memesan (booking)

Jika semua perencanaan sudah matang, langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah memesan. Di tahapan ini orang-orang yang ingin berlibur, pada dasarnya sudah menjadi konsumen Anda. Sudah ada aktivitas transaksi di sini.

d. Merasakan (experiencing)

Ini adalah tahapan ketika wisatawan merasakan langsung apa yang sebelumnya dia bayangkan lalu membagikan pengalamannya ke medsos. Terkadang, bisa saja mereka melakukan aktivitas-aktivitas di luar yang telah direncanakan. Namun, poin terpenting di sini adalah, bila pengalaman yang didapatkan sangat berkesan, mereka bisa kembali lagi untuk melakukan transaksi berikutnya.

Marketers mesti jeli dalam memanfaatkan setiap tahapan-tahapan micro-moments tersebut. Karena para calon wisatawan membutuhkan referensi yang relevan untuk membuat impian berlibur mereka menjadi konkret.

Misalnya pada tahapan “membayangkan”. Biasanya di tahapan ini para calon wisatawan akan mencari-cari inspirasi dengan mengunjungi berbagai situs OT. Dengan menggunakan perangkat analitik, perilaku ‘mencari inspirasi’ seperti ini tentu bisa dengan mudah teridentifikasi.

Selanjutnya, bila para calon wisatawan ini adalah member layanan Anda atau memutuskan bergabung untuk menerima newsletter, buatlah newletter rutin. Newsletter ini bisa berisi panduan berlibur yang di dalamnya mencakup berbagai informasi mulai dari hotel, restoran, tempat bersantai, yang semuanya terintegrasi dengan aplikasi OTA. Dalam bahasa populer, cara seperti ini adalah tentang bagaimana menarget pengguna yang tepat di waktu yang tepat.

3. Mengetahui waktu dan perangkat yang digunakan

Ide untuk berlibur bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bisa saja ide itu datang ketika seseorang berada di perjalanan pulang, kafe, rumah, atau ketika sedang di tengah padatnya aktivitas kerja. Tentu di setiap waktu dan tempat itu perangkat yang digunakan bisa berbeda. Contohnya, ketika di perjalanan orang-orang akan lebih memilih smartphone untuk browsing ketimbang repot-repot mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.

Jika mengacu ke fase-fase micro-moments di atas, ada momen-momen di mana seseorang hanya mengumpulkan referensi berlibur. Biasanya ini lebih fleksibel. Bisa dilakukan di kondisi yang dinamis seperti di perjalanan, hang out, break kerja, dan sangat memungkingkan dilakukan dengan menggunakan smartphone atau tablet. Namun, ketika masuk fase order atau memesan kebutuhan berlibur, biasanya dibutuhkan waktu yang lebih settle seperti di rumah dan menggunakan perangkat yang mampu memberi tampilan lebih jelas seperti PC atau laptop.

Ketika Anda memahami journey dan perilaku pengguna dengan perangkatnya, maka Anda akan mengetahui strategi dan konten apa yang paling tepat untuk setiap fase yang mereka lalui. Misalnya, konten yang dibuat untuk menarik pengunjung pada fase dreaming dan planning bisa sangat efektif jika dimaksimalkan untuk pengguna smartphone. Sementara itu penawaran spesial seperti promo dan diskon bisa lebih menarik ketika diletakkan pada fase order yang biasanya dilakukan menggunakan PC.

4. Video 360˚

Saat ini teknologi bisa memungkinkan seseorang mengalami sensasi ‘berwisata’ bahkan sebelum dirinya benar-benar mengunjungi tempat wisata yang ingin dituju. Berbagai terobosan digital dalam bentuk visual interaktif bisa dimanfaatkan untuk menarik para calon wisatawan. Misalnya dengan video 360˚ berkualitas HD yang memungkinkan seseorang menikmati sensasi melihat tempat wisata yang ingin dituju, bahkan hingga ke kamar hotel yang nyaman.

Ini tentu jauh lebih menarik dan memberikan pengalaman yang menggugah ketimbang hanya melihat foto statis sekalipun ditampilkan dalam jumlah banyak. Sejumlah OTA luar negeri pun sudah banyak memproduksi video-video 360˚ di channel YouTube mereka untuk tempat-tempat wisata unggulan seperti Dubai di Uni Emirat Arab, Selandia Baru, dan Piramida di Giza Mesir.

Membuat video seperti ini memang membutuhkan biaya produksi yang tidak sedikit. Namun, investasinya tidak hanya berputar pada pertimbangan profit, namun juga prestise. Di Indonesia, tampaknya belum banyak OTA yang menggunakan teknologi ini dalam promosinya. Ini bisa menjadi peluang untuk menjadi pelopor OTA yang memiliki video promosi eksklusif dengan menggunakan 360˚.