Maret 29, 2019

Bagaimana Merancang Strategi Marketing di Medsos dengan S.M.A.R.T.?

By : Bizinsight

Di saat jutaan orang di Indonesia memiliki berbagai akun media sosial (medsos), maka saat itu pula medsos menjadi lahan marketing yang sangat potensial. Menurut We Are Social, hingga Januari 2019 setidaknya 150 juta orang di Indonesia telah mengakses medsos. Ini sebabnya mengapa medsos hari ini menjadi salah satu media utama untuk promosi.

Dengan medsos, kampanye marketing Anda  bisa terpantau secara lebih terukur. Cukup mudah untuk mengetahui apakah kampanye tersebut mencapai target-target engagement yang Anda tentukan. Misalnya, melalui sebarapa banyak likes, re-share, view, dan komentar dari konten yang Anda posting.

Dalam merancang strategi marketing untuk medsos, ukuran menjadi sangat penting. Semakin spesifik dan realistis strategi yang Anda rancang, makin efektif pula kampanye tersebut dapat berjalan. Pertanyaan dasar ketika merancang strategi kampanye adalah, “Apa tujuan dan targetnya?” . Tanpa goals, Anda akan kesulitan untuk mengukur sejauh mana kampanye tersebut berjalan sukses.

Untuk menjawab pertanyaan itu, pastikan 5 aspek S.M.AR.T. di bawah ini telah terpenuhi.

Specific (tujuan spesifik)

Memiliki engagement yang tinggi di medsos bisa banyak menguntungkan bagi bisnis. Dari situ, Anda juga dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan brand awareness dan brand reputation. 

Namun, goals itu memerlukan ukuran yang jelas. Sebagai contoh, di bulan ini Anda ingin meningkatkan engagement dengan memperoleh 1.000 followers di Instagram, 500 di Twitter, dan 2.000 subscribers di Facebook. 

Jika target engagement tersebut tercapai, maka potensi meningkatkan brand awareness dan brand reputation pun bisa diperoleh ketika 77% dari followers di medsos me-mention akun, share konten, dan ikut meramaikan kampanye tagar Anda.

Atau brand reputation yang ingin dicapai adalah ketika metrik yang Anda gunakan menjaring 1.000 followers yang membicarakan kepuasan services terhadap brand Anda di medsos. Semua goals tersebut perlu mesti memiliki target yang jelas, terukur secara persentase atau ukuran lain yang Anda gunakan.  

Measurable (terukur)

Jika Anda memiliki target “meningkatkan awareness di media sosial” tentu itu adalah rencana yang baik. Namun, Anda perlu merinci lebih detil dalam bentuk apa “peningkatan awareness” tersebut.

Beberapa indikator terukur yang dapat Anda gunakan adalah listening posts dan interaksi. Yakni seberapa banyak pengguna yang membicarakan kampanye tersebut. Ini bisa dilihat dari tagar yang mereka gunakan, me-mention akun Anda, atau bertambahnya jumlah followers.

Atau, jika platform utama bisnis Anda adalah web-based, maka Anda bisa mengarahkan pengguna medsos untuk berkunjung ke webiste Anda sehingga terjadi peningkatan traffic sebesar 200%.

Achievable (terjangkau)

Poin ini adalah tentang bersikap optimistis namun realistis. Jika pada tahun lalu suatu brand memperoleh 1.000 followers dalam sekali kampanye, maka di tahun ini sebaiknya tidak menentukan target 10.000 followers. Terlebih jika tidak ada penyesuaian dalam budget atau inovasi terbaru.

Membangun brand tentunya meliputi proses yang membutuhkan waktu, pendanaan, dan evaluasi. 

-Relevant (relevansi)

Apakah ada hubungan yang kuat antara menambah followers di Instagram dengan meningkatkan penjualan di tahun ini? Pertanyaan semacam ini adalah poin penting dalam merancang strategi marketing. 

Perlu jadi catatan penting juga bahwa upaya ini juga perlu dibarengi dengan produktivitas konten berkualitas yang bisa mengarahkan pelanggan kepada sales misalnya. 

Pastikan bahwa upaya meningkatkan followers, komentar, dan indikator engagement lainnya juga mesti relevan dengan keuntungan dari sisi bisnis.

Timely (rentang waktu)

Dengan deadline, tim Anda memiliki target yang terpaut dengan rentang waktu yang tersedia. Anda pun memilki target waktu yang jelas untuk menyelesaikannya. 

Ketika kampanye selesai, maka Anda bisa mengukur efektivitas dan tingkat keberhasilan yang Anda peroleh dengan rentang waktu tersebut.

Anda bisa menggunakan kalender konvensional atau pun kalendar fiskal guna menyesuaikan dengan kepentingan-kepentingan finansial perusahaan.

 

Image source: Shutterstock