Influencer Marketing/Pixabay
Juli 27, 2018

Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan dalam “Influencer Marketing”

By : Bizinsight

Influencer marketing. Terminologi ini terus naik daun seiring dengan maraknya penggunaan media sosial. Namun, sama seperti metode pemasaran lainnya, influencer marketing juga sisi baik, jelek, dan buruk. Meski terdengar sederhana, melakukan hal ini dengan benar akan memakan waktu dan membutuhkan banyak energi, usaha, dan perhatian terhadap detail.

Sekitar sepuluh tahun silam, media sosial tidak sepopuler sekarang. Tak ada yang menyangka bahwa memiliki banyak teman atau pengikut dapat membuka ladang emas baru. Ya, di masa itu, media sosial hanya menjadi platform untuk saling terhubung dengan orang-orang, baik yang sudah dikenal ataupun yang baru.

Namun, pandangan tersebut mulai bergeser ketika akun Twitter Ashton Kutcher menyentuh angka satu juta pengikut. Kita jadi lebih sering melihat media-media mainstream menjadi gema dari media sosial yang memungkinkan massa media sosial menentukan apa yang penting dan bisa mencerminkan sentimen publik.

Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya pengguna media sosial, peluang bisnis pun mulai dilirik. Akhirnya, lahir lah strategi yang memanfaatkan orang-orang berpengaruh di media sosial sebagai kanal pemasaran baru. Ini juga merupakan buah dari kejenuhan masyarakat yang sudah sering terpapar pemasaran hard-selling.

Lalu, apa yang harus diperhatikan bila ingin menggunakan kanal ini sebagai bagian dari rencana pemasaran Anda?

Your Goals for Influencer Marketing Strategy!

Influencer marketing mungkin adalah cara terbaik untuk meningkatkan branding Anda tanpa benar-benar melakukan banyak usaha. Anda dapat memperoleh manfaat dari konten organik yang tidak dibuat sendiri tetapi bisa mendorong engagement merek Anda. Ini bisa menjadi cara terbaik untuk menghemat biaya pembuatan konten.

Namun, kembali lagi pada pertanyaan mendasar. Apa tujuan Anda menggunakan kanal ini? Kenapa Anda harus memiliki tujuan di sini?

Well, seperti halnya strategi pemasaran lain, menentukan tujuan dari strategi influencer marketing dapat membantu Anda dalam menciptakan kampanye pemasaran yang sesuai dengan bisnis Anda. Umumnya, influencer marketing digunakan untuk meningkatkan brand awarenessproduct launches, content generation, community building, dan research.

The Influencer Marketing Spectrum

Piramida Influencer Marketing/Starngage

Piramida Influencer Marketing/Starngage

Setelah menentukan goals, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah memilih influencer yang akan menjadi rekanan. Istilah ‘influencer’ sendiri biasanya dipakai untuk menggambarkan selebriti, ‘elit’ media sosial, dan blogger yang dapat diidentifikasi kembali menjadi:

Mega-Influencer: Individu yang memiliki penghasilan lain sebagai penghasilan utama dan hanya memanfaatkan pengaruhnya sebagai pemasukan tambahan. Atlet, aktor, artis, model top, dan selebriti adalah individu yang masuk dalam kelompok ini.

Macro-Influencer: Individu yang dapat menjadikan influence-nya sebagai penghasilan utama layaknya profesi utama dia. Jurnalis, Youtuber, dan Selebgram adalah individu yang masuk dalam kelompok ini.

Micro-Influencer: Konsumen sehari-hari yang memiliki pengaruh yang relevan dan mungkin tidak mengetahuinya, atau bercita-cita menjadi makro-influencer. Biasanya, jumlah pengikut di media sosialnya mencapai ribuan dan di bawah lima ratus ribu.

Brand-Advocate: Konsumen sehari-hari yang bersemangat dan mau berbagi, tetapi memiliki pengaruh yang kecil.

The Good, The Bad, and The Ugly

Salah satu sisi terbaik dari strategi influencer marketing adalah untuk membangun kepercayaan. Konten yang dipos oleh influencer pun umumnya autentik sehingga bisa mendorong para pengikutnya untuk percaya. Namun, seiring dengan adopsi media sosial yang kian meningkat, orisinalitas ini juga terancam.

Influencer adalah individu bebas dan tidak terikat sehingga dapat bekerja sama dengan berbagai perusahaan dalam waktu yang sama. Bila sudah terjadi, biasanya mereka memiliki template untuk konten bersponsor yang akan dipakai berulang kali dan membuat konsumen menjadi lebih menyadari bahwa itu adalah konten berbayar. Tidak salah, tetapi juga akan menimbulkan resiko konten yang disponsori tersebut diabaikan karena dianggap tak jauh berbeda dengan strategi hard-selling yang sudah menjenuhkan.

Hal paling buruk yang bisa terjadi dari startegi ini bisa datang dari hal yang tak terduga. Contohnya, influencer yang menjadi rekanan membuat konten atau komentar pribadi berbau SARA dan menyangkut isu sensitif. Hal ini bisa ikut membawa dampak negatif pada persona sebuah merek. Bila sudah demikian, mau tidak mau, kerja sama yang sudah terjalin harus diputus.

Influencer marketing memang bisa membuat citra sebuah merek meroket dan bisa menghemat biaya. Namun, sebagai strategi pemasaran, sangat penting juga untuk tetap melakukan riset kecil tentang dengan siapa Anda berbisnis.

Setiap individu yang memiliki pengaruh punya karakter yang berbeda. Tidak semuanya jujur, tidak semuanya dapat mewakili merek Anda. Jadi, lakukan pekerjaan rumah Anda ketika akan memilih dengan siapa Anda akan bekerja sama karena hal ini bisa menjadi perbedaan antara kampanye yang sukses atau gagal.

[Img Source: Eric_Lucatero/Pixabay]